Story Blog Tour : Keributan di Malam Hari

“Ibu….” suara Ana tercekak.

“IBU JAHAT. MENGAPA IBU TEGA MELAKUKAN INI PADA AYAH?,” teriak Ana dengan wajah penuh kebencian.

“BERHENTI BICARA ANA. KURANG AJAR KAMU BERANI BICARA SEKERAS ITU,”? Ibu berteriak memerintah Ana dengan sorot mata yang tajam.

Dengan cahaya lampu yang sudah redup di ruangan itu Ana dan Ditya dapat melihat dengan jelas dua telapak tangan Ibunya berlumuran bercak darah.

Ana menangis makin terisak. Bentakan Ibunya  membuat dirinya tidak berani berkata lagi. Namun hatinya tidak bisa berbohong. Ia ingin mengeluarkan semua emosinya, semua kekecewaannya, semua kesedihan yang ada di hatinya.

Krieeet.

Terdengar suara pintu terbuka. Bayangan seseorang masuk terlihat jelas di dinding rumah tua itu. Ditya dan Ana sudah curiga sejak tadi. Saat dirinya mendengar seseorang telah keluar melalui pintu depan itu. Tetapi dugaan keduanya salah, Ibunya masih ada di dalam rumah. Lalu siapa yang tadi keluar?

Srek … srek… srek.

Seseorang dengan tubuh tegap dan tinggi mengenakan kaos hitam sudah berdiri di belakang ibunya. Pembunuh bayaran.

“Cepat bereskan anak muda itu dan tangkap Ana” perintah singkat Ibunya kepada pembunuh bayaran itu.

“Siap Nyonya.”

Ana tegang. Bingung. Sedih. Seakan masalah datang menimpanya secara bergelombang. Tidak menyisakan waktu sedikit pun baginya untuk bernafas lega.  Pikirannya tidak tenang. Dia sangat tidak siap dengan suasana seperti ini.

Ditya melangkah berdiri maju di depan Ana. Matanya semakin tajam. Kedua kakinya berubah membentuk kuda-kuda. Dia telah mengikuti Taekwondo semenjak SMP dan hingga saat ini di sekolahnya. Walaupun tubuhnya agak kurus. Tetapi kelincahannya dan keahlian bela diri yang dimilikinya diakui oleh teman-teman  di sekolahnya. Ditambah dengan prestasinya belum lama ini Ia meraih prestasi juara II lomba maraton lari jarak jauh tingkat provinsi.

Bagi orang-orang yang mendalami ilmu bela diri sudah sangat biasa menghadapi situasi yang mengancam seperti yang dirasakan Ditya sekarang. Hati mereka tidak gentar apalagi  takut. Mata, kedua tangan, dan kedua kaki sudah siap merespon setiap serangan kapan saja. Mereka terbiasa berlatih agar sigap kapan pun dan dimana pun. Mereka terbiasa berlatih hingga memiliki gerakan reflek yang cekatan dan sigap.

“Pergilah Ana dari rumah ini. Minta bantuan  tetangga yang paling depat dari rumahmu,”  Pinta Ditya tegas. belum pernah dia berkata setegas itu kepada Ana.

“Tapi kamu….. ?” jawab Ana khawatir.

“Jangan pedulikan aku. CEPAT PERGI,” Perintah Ditya dengan sorot mata yang tajam. Yang diperintah langsung berlari keluar melewati pintu belakang yang saat itu sudah terbuka.

********************

Ana berlari sekuat tenaganya menerobos kegelapan hutan. Sepanjang perjalanan air matanya mengalir semakin deras. Yang saat ini ada dalam pikirannya, bagaiman ia segera sampai ke rumah Pak RT kemudian minta bantuan kepada Pak RT dan beberapa warga untuk segera ke rumah Ana mendamaikan keributan yang terjadi. Berharap Ibunya dan Ditnya dalam kondisi baik-baik saja.

********************

Tap… tap… tap… tap. Pembunuh bayaran itu maju berlari mengejar Ana. Ditya menghalau. Berdiri tepat di depan  pembunuh bayaran itu dengan kedua tangan yang sudah terkepal dan bersiaga dari serangan apapun. Pembunuh bayaran itu melayangkan pukulan ke arah wajah Ditya.

DAAGH. Pukulan pembunuh bayaran itu berhasil ditahan oleh tangan Ditya.

Ditya melihat ada celah di bagian perut pembunuh bayaran  itu. Kaki kanannya dengan sangat cepat menendang perut pembunuh bayaran dua kali kena telak. Pembunuh bayaran itu terpental. Wajahnya menahan sakit. Tapi langsung berdiri waspada.

Pembunuh bayaran itu maju dengan berlari mengarahkan pukulan lebih keras dari sebelumnya ke arah wajah Ditya. Ditya berhasil menangkisnya dengan tangan kanannya. Tapi pembunuh bayaran terus memberi dorongan dan tekanan dari pukulan itu. Sehingga fokus mata Ditya teralih ke tangan kanannya yang sedang menahan pukulan keras pembunuh bayaran. Menahan sekuat tenaga biar tidak menerobos mengenai wajahnya. Saat menahan serangan itu kaki kirinya sampai mundur beberapa senti ke belakang. Power pukulan ini keras sekali.

Buuggh. Serangan tidak terduga pembunuh bayaran memukul dengan tangan kiri mengenai pipi sebelah kiri Ditya. Beruntung bisa ditahan dengan tangan kirinya meski sedikit. Serangan pukulan itu membuat pipinya lebam. Ditya mundur beberapa langkah. Posisi kakinya tidak berubah, masih tetap memasang kuda-kuda. Dia terus mengatur ritme nafasnya. Tanganya kembali mengepal di atas dada. Matanya membulat tajam.

Kini keduanya menyerang. Saling memukul, saling menghindar, saling mengintai celah-celah untuk melakukan serangan. Kelincahan dan kecepatan Ditya disini ditunjukkan. Berkali-kali pukulan dan tendangan keras pembunuh bayaran yang diarahkan kepadanya, berhasil dihindari dan ditangkisnya dengan sangat sempurna. Dia terus memancing  agar pembunuh bayaran terus memberikan serangan, agar energi pembunuh bayaran terkuras tanpa disadari.

Saat pembunuh bayaran fokus menyerang bagian wajah Ditya. Ditya menendang kaki kiri pembunuh bayaran. Tetapi sayang tendangan itu diketahui pembunuh bayaran. Kaki Ditya tertangkap oleh tangan kanan pembunuh bayaran itu. Bahaya. Tubuh Ditya menjadi tidak seimbang.  Ditya menarik nafas panjang, tangannya melayangkan pukulan ke arah wajah pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun menyadari mencoba menangkis dengan tangan kirinya. Bukan bagian itu. Pukulan keras Ditya mengenai  tepat  bagian dada sebelah kanan pembunuh bayaran itu. Serangan tipuan Ditya berhasil. Kakinya pun terlepas dari tangan pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun terpental.

Hampir saja. Ditya terus mengatur ritme nafasnya. Keringat deras membanjiri wajah dan tubuhnya. Dia tidak bisa bohong staminanya sudah sangat berkurang. Ini harus cepat diakhiri.

Ssssst. Prak. Satu buah kaleng melayang sangat kencang dan ditangkis oleh telapak tangan Ditya. Telapak tangannya mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka kaleng itu setajam ini. Aku lupa masih ada musuh satu lagi.

“CEPAT KAU BERESKAN BOCAH ITU. AKU SUDAH MUAK DENGAN PERMAINAN INI.” Teriak sang Ibu dengan sorot mata mengancam. Tangannya memegang batu bata. Kali ini dia akan ikut bertarung ‘menghabisi ‘ Ditya.

Pembunuh bayaran pun bangkit berdiri mengeluarkan pisau belati.

******************

Ana tiba di rumah Pak RT 10 menit kemudian. Matanya masih merah. Dengan nafasnya yang kiang tersenggal-senggal, dia mengetuk rumah Pak RT.

Tok tok tok.

“Tolong buka pintunya pak RT.” Ana memanggil dengan suara agak keras.

Pak RT yang masih terjaga langsung membuka pintu.

“Ada apa Ana?”

“Pak tolong pak. Di rumah Ana terjadi keributan besar. Cepat Pak kita kesana Ana butuh bantuan Bapak.”  Ana memohon. Tangisnya kembali mengaliri wajahnya.  Waktunya sudah sempit sekali.

Pak RT seketika percaya ada keributan di rumah Ana.

Pak RT mengeluarakan ponsel, menelpon petugas hansip yang sedang berjaga. Belum sampai dua menit, petugas hansip sudah tiba di depan rumah Pak RT. Letak pos jaga dengan rumah Pak RT hanya berjarak 50 meter. Pak RT menceritakan singkat peristiwa yang terjadi di rumah Ana kepada dua orang petugas hansip.

“Ayo Ana kita ke rumahmu sekarang.” Ajak Pak RT

Ana memimpin jalan dengan langkah setengah berlari. Pak RT dan dua orang hansip mengikuti dengan langkah kaki yang terburu-buru juga.

Bersambung …………..

 

Cerita selanjutnya dalam blog Enie Handyas (www.eniehandyas.wordpress.com)

 

CATATAN:
Tulisan ini bagian dari Story Blog Tour 2016 yang diadakan Komunitas One Week One Paper (www.oneweekonepaper.com). Member OWOP yang sudah mendaftar, sesuai urutannya membuat story di blog pribadi masing-masing. Kemudian member berikutnya melanjutkan cerita di blog pribadinya juga. Nah, kali ini saya dapat giliran di episode 10.

Episode 1 :  Senandung Malam – Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua – Rizka Zu Agustina 
Episode 3 : Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan – Cicilia Putri Ardila 
Episode 4 : Kunci yang Diputar Tengah Malam – Rizki Khotimah 
Episode 5 : Tamu Tak Diundang – Dini Riyani
Episode 6 : Pulang – Nurhikmah Taliasih
Episode 7 : Tamu Tak Diundang (Lagi) – Mister Izzy
Episode 8 : Jantung – Depi

Episode 9 : Orang yang Seharusnya Tiada – Nifa  

episode 10 : Keributan di Malam Hari – Imron Prayogi

Episode 11 : www.eniehandyas.wordpress.com (coming soon)

Advertisements

3 thoughts on “Story Blog Tour : Keributan di Malam Hari

  1. TS January 16, 2016 at 10:19 am Reply

    Semoga baik-baik sajaa…
    Dua part lagi menuju ending ya 👍

    • imron prayogi January 18, 2016 at 3:27 pm Reply

      Terimakasih Tally sudah berkunjung di blog sya.

      Saran untuk tulisan sya ditunggu ya.

  2. […] 10 : Keributan di Malam Hari – —Imron […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: