Meet & Greet Bersama Tere Liye

“Menulislah apa yang harus orang baca, bukan menulis apa yang orang ingin orang baca” (Tere Liye)

Sabtu, 19 Desember 2015

Saat mengendarai sepeda motor hari sudah sore. Namun hawa panas tadi siang masih saja terasa. Sore ini saya berangkat menuju Toko Buku Gramedia Depok menghadiri acara meet and greet bersama Tere Liye. Jalan raya Tanjung Barat hingga Jalan Margonda Depok cukup lancar. Sangat wajar hari ini adalah hari libur kerja. Saya tarik tuas gas motorku agar lebih cepat. Semoga hari ini saya mendapat ‘oleh-oleh’ dari pertemuan sore ini.

Tiba di Toko Buku Gramedia Depok. Saya menitipkan tas ransel di meja penitipan barang dilantai 1. Kemudian saya menuju lantai. Melangkah menaiki elevator. Sampai di lantai dua ku arahkan pandangan beberapa sisi ruangan ini. Mencari dimana ruang Meet and Greet bersama Tere Liye. Sambil terus melangkah, saya mendengar suara Bang Tere Liye dan saya melihat sekumpulan pengunjung toko buku ini berdiri mendengarkan materi kepenulisan dengan seksama. Bagi saya ini pertemuan kali kedua dengan bang Tere Liye. Yang pertama saya bertemu dengan beliau di Senayan Jakarta saat acara bedah novel Rindu dalam acara Islamic Book Fair Maret 2015 lalu.

Segera saya berdiri mendengarkan materi yang Bang Tere sampaikan. Padahal baru beberapa menit mulai, kursi pengunjung acara ini sudah penuh. Bahkan lebih banyak pengunjung yang berdiri daripada pengunjung yang duduk dalam acara meet and greet ini. Saya lihat sebagian besar yang hadir acara ini adalah remaja yang terdiri dari siswa SMA dan mahasiswa.  Bang Tere duduk disamping deretan rak-rak buku-buku Gramedia. Di sampingnya ada moderator Mbak Andriyati (Editor penerbit Republika). Ini menarik perhatian setiap pengunjung yang tiba di Toko Buku Gramedia Depok.  Saya pikir acara ini diadakan di ruangan khusus di Gramedia seperti yang ada di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta Timur. Di depan sofa ada satu meja kayu berukuran pendek yang membatasi pembicara dengan audience. Ada sejumlah audience yang saking semangatnya ingin mendengar materi Bang Tere sampai duduk bersila diatas lantai. Saya berdiri di samping pengeras suara (speaker). Saat itu terbesit ide untuk merekam materi kepenulisan ini dengan Xiaomi. Saya aktifkan aplikasi rekaman. Semakin sore toko buku ini semakin banyak pengunjung yang mendatanginya.

Lalu mengapa saya tertarik ikut acara ini? Satu alasan, saya ingin membangkitkan semangat menulis saya. Saya berniat menuliskan pengalaman dari acara hari ini. lalu apa lagi? Saat ini saya sedang menempuh kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta semester tiga. Saat semester tiga ini saya dipertemukan dengan seorang dosen yang bernama Pak Imam Sibawaih. Beliau dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar dan beliau adalah seorang penulis. Suatu hari saya dan beberapa teman di kelas bersilaturahmi ke rumah beliau yang berdekatan dengan kampus. Saat itu beliau berkata kepada saya dan beberap teman saya, “Sastra itu adalah rasa. Mengembangkan diri dalam bersastra, engkau mesti berteman dengan orang-orang yang pandai mengolah rasa (sastrawan).” Saat mendengar saya mengerti satu hal bahwa menulis itu butuh banyak  perjuangan. Kemauan berteman dan kesungguhan membaca buku-buku karya sastrawan adalah salah satu bagian untuk mencapai cita-cita sebagai seorang penulis. Pun saat ini, saat melangkahkan kaki dari rumah menghadiri acara sore ini, saya meneguhkan niat bahwa ini adalah salah satu ikhtiarku agar saya bisa belajar dan mendapatkan motivasi menulis dari Bang Tere Liye. Agar semangat menulis yang ada di dalam diri saya ini semakin bertambah. Agar saya bisa menemukan alasan saya untuk terus menulis.

Bang Tere Liye sedang menyampaikan materi kepenulisan (dokumentasi : Imron Prayogi)

Bang Tere Liye sedang menyampaikan materi kepenulisan (dokumentasi : Imron Prayogi)

Saya membaca karya bang Tere Liye pertama kali tahun 2010. Saat itu saya membaca novel Bidadari-Bidadari Surga. Sejak saat itu saya menjadikan beliau salah satu penulis favorit saya. Tulisan beliau sederhana namun pesan moralnya cukup mendalam. Selalu aja ada ide yang menarik, pemahaman baru tentang melihat kehidupan dan cerita yang unik dari karya yang beliau tulis. Apalagi ketika beliau menuliskan kisah hubungan anak-anak dengan orang tuanya. Menarik sekali. Bikin gemes. Kadang membuat terharu juga. Tetapi dibalik semua itu ada hikmah yang bertaburan didalamnya. Tahun berikutnya saya membeli novel karya beliau; Daun Yang  Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Sunset Bersama Rosie, Berjuta Rasanya (kumpulan cerpen), Rindu, dan Pulang. Bagi yang belum pernah membaca novel Tere Liye, silahkan meminjam atau membeli di toko buku Gremedia hehehe (promosi).

Meet and Greet ini sifatnya tanya jawab antara audience dengan Bang Tere Liye. Pertanyaan bebas masih dalam batasan kepenulisan. Tiap satu termin ada tiga orang yang bertanya.yang saya ingat sepanjang acara ini berlangsung ada tiga termin. Artinya ada sembilan orang yang bertanya. Saya berkesempatan bertanya pada termin ke-3 menjelang akhir acara hehehe. Tiap satu termin selesai diselingi dengan satu dua kuis. Yang bisa menjawab pertanyaan dari Bang Tere Liye seputar novel-novel yang beliau tulis, akan diberi hadiah berupa buku dan kaos pulang dari penerbit Republika.

 

Bang Tere Liye sedang Menyapa dengan salah satu pengunjung dalam sesi acara tanda tangan oleh bang Tere Liye (dokumentasi : Imron Prayogi)

Bang Tere Liye sedang berbincang dengan salah satu pengunjung dalam sesi acara tanda tangan oleh bang Tere Liye (dokumentasi : Imron Prayogi)

Berikut adalah summary (ringkasan)  yang saya buat dari materi kepenulisan yang disampaikan Bang Tere Liye dalam acara Meet and Greet di toko buku gramedia depok.

Pertama, miliki niat yang tulus untuk menulis. Niat yang tulus ini akan meneguhkan diri kita untuk terus menulis. tidak peduli tanggapan orang se-negatif apapun, dia selalu bisa membujuk hatinya untuk terus menulis. karena dia sangat tahu tujuan mengapa dirinya menulis. Bang Tere Liye bilang,
“Kalau kalian tidak memiliki niat yang baik dan tulus untuk menulis, jangankan tanggapan orang lain atas tulisan kalian, tanggapan dari diri kalian sendiri sudah cukup menghentikan kalian untuk menjadi seorang penulis. misalnya, oh aku sibuk sekali, ngapain juga aku jadi penulis. Game over. aduh aku udah nulis, tapi kok tulisanku jelek kayak gini, ngapain juga aku jadi penulis. Game over. Tidak akan pernah kalian menjadi penulis. ketika kalian mempunyai niat yang tulus untuk menulis. kalian akan bisa menaklukan bisikan-bisikan itu. kalian bisa membujuk hati kalian untuk terus menulis.”

Kedua, siapkan amunisi untuk tulisan. Amunisi terbesar menulis ada tiga, 1) membaca. Tanpa membaca tidak akan jalan resep menjadi penulis. Semakin  kamu mau menjadi seorang penulis, kamu mesti banyak membaca.  2) Lakukan perjalanan mengelilingi dunia. Seperti membawa ransel naik gunung, menyelam di suatu tempat, dan seterusnya. Hal ini menjadi menjadi sangat penting berharga bagi seorang penulis. bukan untuk selfi melainkan menjadi masukan (ide) dalam pikiran kita. 3) Mengamati lingkungan sekitar. Seperti mengamati kehidupan teman-teman sekitar, dan mengamati media sosial hari ini. mengamati disini bukan hanya sekedar hanya sekedar tahu sekilas. Mengamati disini bermaksud observasi. Mengamati untuk memahami suatu pemahaman secara utuh.

Ketiga, mendisiplinkan diri dalam menulis. disiplin disini diartikan konsistensi. Menulis pun perlu konsistensi. Semakin sering dilatih, maka tulisan semakin bagus. Itulah alasan mengapa menulis itu adalah keterampilan yang bisa dimiliki oleh semua orang. Bang Tere Liye bilang, “Setiap dari kalian bisa menjadi penulis. Ibu rumah tangga bisa menjadi penulis. PNS bisa menjadi penulis. Guru bisa menjadi penulis. dan sejujurnya orang yang  pandai menulis semestinya adalah karyawan Toko Buku  Gramedia (Spontan peserta  tertawa). Menulis itu bisa dilakukan dimana saja.  Tetapi ingat menulis itu mesti dilakukan dengan disiplin. Habit (kebiasaan) itu dibangun dari mulai, dipaksakan, didisiplinkan, dibiasakan, kemudian sampailah pada titik kebiasaaan. Pada saat kalian sudah sampai pada titik habit, kalian tidak akan pernah bertanya lagi bagaimana membagi waktu untuk menulis.  Imam Syafi’i berkata : “Apabila kalian mempunyai cita-cita dan mimpi, dan kalian memulai langkah kecilnya hari ini maka insya Allah, jika dilakukan dengan tekun dan teguh,  suatu saat kalian akan sampai pada ujung perjalanan. Dan apabila kalian mempunyai cita-cita dan mimpi, tetapi kalian tidak pernah memulai langkah kecilnya hari ini, hanya bisa bicara saja, maka jangankan akan sampai di ujung perjalanan, mencium wanginya saja kalian tidak akan pernah.” Kalau kalian bisa menaklukan mood jelek, kesibukan, maka kalian bisa menjadi penulis yang baik.”

Bang Tere dalam acara tanda tangan novel-novel karya beliau (dokumentasi : Yudi)

Bang Tere Liye dalam acara tanda tangan novel-novel karya beliau (dokumentasi : Yudi)

Pertemuan kali ini mengajarkan saya bahwa menulis itu butuh niat yang baik. Menulis itu butuh ketekunan dan keteguhan. Keteguhan untuk terus menulis. tidak mudah menyerah dan patah semangat apabila ada respon yang negatif dari pembaca. Terus menulis meskipun tidak ada yang like dan comment dari tulisan kita. Bagian ini paling berkesan untuk saya. Karena saya masih belum bisa membujuk hati untuk menulis. Saya masih sering kalah oleh mood jelek. Saya masih sering menunda-nunda untuk menulis. Padahal tahun ini saya sudah membuat resolusi tahun 2016 untuk membuat tulisan dengan waktu yang relatif padat. Saya berharap tulisan ini bisa menggerakkan diri saya untuk konsisten dalam menulis. Kepada pembaca blog saya, semoga pembaca juga dapat wawasan tentang kepenulisan dan ikut tergerak untuk memulai menulis. Karena setiap dari kita adalah pribadi yang unik. Dan setiap kita bisa menjadi penulis. Yukk kita memulai menulis ..

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 10 Januari 2016

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Meet & Greet Bersama Tere Liye

  1. Ain al akmal January 11, 2016 at 6:50 pm Reply

    Haha bagus mas imron, lanjutkan karya2nya!

    • imron prayogi January 11, 2016 at 10:17 pm Reply

      Thanks ainal sudah berkunjung di blog saya. Smg tulisanny brmnfaat ya

  2. Levina Mandalagiri May 7, 2016 at 5:09 pm Reply

    Sering bepergian bukan berarti untuk selfie. Setuju sekali itu. Tapi lebih ke arah merangsang semua panca indera kita untuk memperkaya tulisan kita ya. Baru ngeh hakikat bepergian.

    • imron prayogi May 7, 2016 at 7:03 pm Reply

      Setuju. Kalo kata bang Tere, salah satu amunisi menulis itu adalah banyak melakukan pengamatan.
      Utk menulis feature, pengamatan jg trmasuk bagiab dari riset.

      Ayo semangat berlatih nulis lagi dan lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: