Dalam Perjalanan ke Baduy Part 1

Jumat, 4 Desember 2015

Field Trip to Baduy 2015 Prodi Ekonomi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dimulai.  Meeting Point di Loby kampus Unindra Rancho pukul 20.00. Malam ini saya mengenal teman baru yang akan menemani perjalanan ini. Ada Yahya, Rahmat, Helmi, Rika. Mereka semua adalah mahasiswa semester 5 reguler pagi. Kalau dengan Yahya, saya sudah mengenalnya ketika ada kegiatan abdimas Unitas Ekonomi di CCE (Charity Children Educatiaon) Community Kebagusan Jakarta Selatan. Dimana waktu itu saya masih aktif di komunitas CCE. Bersama mereka, kami menuju meja panitia untuk mengisi form registrasi dan diberikan kartu peserta observasi Antropologi. Di halaman depan kartu peserta berisi nama peserta dan nama kelompok. Di halaman belakangnya berisi rundown kegiatan observasi. Di meja panitia saya juga bertemu dengan Raihan, ketua panitia observasi ini. Dia memberitahu kami keberangkatan jam 22.00.

Pukul 21.30. Seluruh peserta, panitia, dan dosen berkumpul di halaman depan kampus. Semua berbaris memanjang ke belakang berdasarkan kelompoknya masing-masing yang sudah dibagi oleh panitia. Bapak Nandang (dosen mata kuliah Antropologi Unindra) membuka acara ini dengan memberi sambutan yang isinya harapan agar setiap peserta dapat mengikuti kegiatan observasi ini dengan baik, mematuhi tata tertib yang sudah diberikan, serta dapat kembali lagi dengan keadaan yang baik pula. Sambutan beliau ditutup dengan memandu seluruh peserta untuk berdoa sebelum keberangkatan. Kemudian panitia memanggil satu per satu peserta agar segera menaiki Truk. Peserta satu per satu dipanggil diberi arahan untuk menaiki Truk yang sudah ada di depan jalan raya Rancho.

Pukul 22.00. 2 Truk berjalan menuju Baduy, Kab Lebak Banten. peserta dari mahasiswa dan dosen berjumlah 100 orang. Lampu Sirene dinyalakan. Truk yang kami naiki adalah Truk TNI  yang kami sewa dari Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Perjalanan dengan Truk TNI menjadi pengalaman pertama bagi saya. Suasana di dalam Truk cukup ramai. Suara deruan mesin Truk ini seperti kalah dengan suara sebagian besar diantara kami yang pada asyik ngobrol. Malam ini cukup cerah. Jalan juga lancar. Saya duduk di paling pojok belakang kanan bangku Truk terpisah dari Yahya dkk.

Di depan mading kampus Unindra bersama Yahya, Rahmat, Helmi, dan Rika (sumber : dokumentasi pribadi)

Di depan mading kampus Unindra saya bersama Yahya, Rahmat, Helmi, dan Rika (sumber : dokumentasi pribadi)

Para Dosen berfoto sebelum keberangkatan ke Baduy (sumber : dokumentasi panitia field trip to Baduy 2015)

Para Dosen di loby kampus sebelum keberangkatan ke Baduy (sumber : dokumentasi panitia field trip to Baduy Unindra 2015)

Selama perjalanan, mata saya sulit untuk tidur. Padahal melihat malam ini sudah larut dan dini hari sudah menjelang. Seperti menjadi kebiasaan saya,  ketika melakukan perjalanan di malam hari dengan kendaaraan Truk maupun Kereta Api membuat sulit untuk tertidur. 3 bulan lalu juga begitu. Saat melakukan perjalanan ke Semarang dengan  Kereta Api saya mengalami hal yang sama seperti malam ini.  Data Internet di HP sengaja saya matikan. Menghemat battery 2 hari ke depan. Lagipula di Baduy dalam sana kemungkinan besar sinyal tidak ada. Yang saya lakukan malah melihat pemandangan pinggir jalan tol, melihat bulan sabit yang memancarkan cahaya, mengamati jalan raya kota Serang yang sudah terlihat lengang sekali, menikmati semilir angin malam dengan suasana yang hening. Di hari yang sama sebelum keberangkatan ada email masuk ke akun gmail saya yang membuat saya terdiam dan berpikir sejenak. Email tentang agenda di Jakarta pada hari minggu 6 Desember 2015. Berusaha membandingkan mana yang harus saya pilih. Sudah seharian lebih saya mempersiapkan perjalanan ini. Mulai dari meminjam tas ransel dan sepatu dari Pak Sutaryanto (rekan kerja di Kantor). Itu pun dilalui dengan hujan deras yang membuat kemeja saya bagian atasnya  basah saat ke rumah beliau. Ditambah lagi pembayaran perjalanan ini sudah saya lunasi. Saya memutuskan memilih melakukan perjalanan ini. Perjalanan yang membawaku pergi dan menemui teman-teman baruku. Perjalanan yang mungkin disini aku bisa meneduhkan hati, melihat dan mengamati keindahan pelosok bumi pertiwi, mengenal saudara se tanah air yang kemudian bisa saling mendoakan untuk kebaikan bersama.

Para peserta bersiap menaiki Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy 2015)

Para peserta bersiap menaiki Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

 

Dosen, panitia, dan peserta di belakang Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy)

Dosen, panitia, dan peserta di belakang Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Lalu apa motivasi saya mengikuti kegiatan ini? Informasi kegiatan observasi ke baduy saya terima dari Pak Ismail (dosen Manajemen Pemasaran) 7 hari sebelum keberangkatan. Kesempatan kapan lagi mau ikut ke tempat yang baru, mengenal teman baru, mendapat pengalaman baru? Akhirnya saya memilih ikut perjalanan observasi ini. Kata Mas Ariev Rahman (seorang travel blog http://www.backpackstory.me), “Untuk pemula yang ingin jalan-jalan, rekreasi berlibur ke suatu tempat, maka saran saya mesti punya kemauan, punya waktu luang, dan punya uang.” Tujuan saya sederhana, ingin menambah teman baru, mengenal budaya adat dan masyarakat disana, melihat kebesaran Allah di belahan Bumi-Nya yang lain. Walaupun separuh hatiku tidak bisa berbohong, aku memilih perjalanan ini sendirian tanpa teman satu kelasku.  Karena mengingat itu, aku merasa sedikit sedih. Tetapi separuh hatiku yang lain menguatkan, “dimanapun kaki berpijak, tetap sama seluruhnya bumi Allah. Tidak perlu sedih, takut,  dan khawatir menjelajahi dan mengunjungi suatu daerah, karena hakikatnya langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya adalah milik Allah. Selama niat diri baik dan kita berprilaku baik, orang lain juga akan welcome, respect dan menghargai keberadaan kita.

Lewat dini hari. Sekitar pukul 01.30 Truk kami memasuki daerah Rangkas Bitung sebagian jalannya sedang ada proses perbaikan jalan. Diantar dua sisi jalan (kiri dan kanan), salah satunya ada pengecoran jalan. Jadinya diberlakukan buka tutup jalan. Sepanjang jalan Rangkas Bitung debu tebal dari aspal yang baru dilewati kendaraan mengepul. Cukup tebal debuya. Debunya dapat terlihat dari cahaya lampu kendaraan yang melintasi jalan raya ini. Saya juga kurang tahu apa benar di daerah ini ada tambang pasir? Oh ya Truk TNI kami juga berhenti hampir satu jam. Karena ada buka tutup jalan. Kendaraan yang ke arah Rangkas Bitung dan kota Serang mendapat giliran melintas. Kendaraan yang akan menuju daerah Ciboleger berhenti. Kendaraan yang lewat didominasi oleh Truk-Truk berukuran besar. Ketika Truk kami berhenti cukup lama ini, saya dan sebagian besar peserta tidur. “Akhirnya bisa tidur juga,” gumamku dalam hati. Bulan sabit diatas sana sempurna menemani tidur kami. Pancaran cahanya membuat siapapun yang memandangnya merasa sejuk dan teduh. Suara jangkrik terdengar berirama saling bersahutan.

 

Jakarta, 21 Desember 2015

Advertisements

One thought on “Dalam Perjalanan ke Baduy Part 1

  1. Satu Hari di Kampung Baduy | imron26 January 28, 2016 at 7:15 pm Reply

    […] 1.Dalam Perjalanan ke Baduy (Bagian 1) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: