Menyapa Bukit Gunung Baduy part 2

Sabtu, 5 Desember 2015

Pukul 05.15. Truk berhenti di Terminal Ciboleger. “sudah sampai sudah sampai, ayo turun” terdengar suara panitia saling bergantian. Ku ucap, “Alhamdulillah, akhirnya sampai tempat yang dinanti-natikan.” Baru kali ini naik Truk TNI untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dua sampai tiga jam sebelum sampai terminal ini lambung saya seperti diaduk-aduk dan kepala mulai pusing gak karuan karena guncangan Truk yang berkali-kali. Banyak sisi jalan yang berlubang, berbatuan dihantam dan dilalui dengan kecepatan tinggi. Walaupun sudah menginjak rem, Truk yang melaju dengan kecepatan tinggi tetap membuat Truk ini bergoncang keras berkali-kali bahkan puluhan kali. Dari keadaan yang seperti ini banyak peserta memberi komentar yang beragam. Tapi rata-rata mereka mengeluhkan karena perjalanan menjadi tidak nyaman. Dan yang pasti gak bisa bikin tidur nyenyak merasakan keadaan Truk yang berjalan cukup cepat.  Saya ikut mengeluh, “Ini yang bawa Truk kok ngebut-ngebutan seperti ini. memang gak bisa lebih pelan sedikit. Kalau jalannya lancar, rata, gak ada lubang-lubang besar gak masalah ngebut kencang sekalipun.”

Hari masih gelap. Peserta menuruni tangga Truk dengan wajah bermacam-macam. Tapi sebagian besar apalagi saya yang baru ngerasa naik Truk TNI pasti wajahnya lega dan senang karena sudah ‘bebas’ dari guncangan Truk ini. Awalnya saya mengira tempat Truk kami berhenti ini adalah tempat parkir biasa pada umumnya tempat wisata. Saya amati sekelingnya, ada pertanyaan mengganjal, “Tapi kok banyak Bus-Bus berukuran besar dan sedang memadati tempat ini?.” Ternyata jawabannya saya tahu saat foto-foto bareng Yahya, Helmi, dan Rahmat di depan tugu patung orang baduy bertuliskan Terminal Ciboleger. “Ohh ini terminal. Pantas saja tempat ini dikerumuni banyak kendaraan seperti Truk, Bus, dan angkutan umum.” Saya mengangguk paham.

Para peserta bersiap menjelang dimulainya pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Para peserta bersiap menjelang dimulainya pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Udara yang segar dan keramaian pagi ini seolah menyambut kedatangan kami pagi ini. Setelah turun, saya menuju warung kopi ingin membeli minuman yang hangat. Awalnya ingin membeli air jahe (wedang jahe) tetapi air jahe gak ada. Saya pilih teh manis hangat. Saya menyeruput teh hangat ini pelan-pelan. Saya minum bersama Pak Ismail (dosen mata kuliah Manajemen Pemasaran), Rahmat, Helmi, dan Yahya. Di tempat yang berbeda bersama teman – teman baru membuat pagi ini lebih hangat.  Ada ide “kita foto-foto yuk”, si Helmi langsung mengeluarkan tongsisnya. Kami berfoto-foto di sekeliling terminal Ciboleger dan di depan tugu patung orang Baduy. Saking beberapa peserta pada sibuk foto-foto selfie tidak terasa hari mulai terang. Agenda  sampai jam 07.00 adalah istirahat. Matahari sudah menampakkan dirinya. Keramaian pagi ini di terminal ini menjadi awal dari perjalanan kami menuju kampung suku Baduy dalam.

Para Dosen bersama warga kampung Baduy yang menjadi guide kami (sumber : dokumentasi panitia field Trip to Baduy Unindra 2015)

Para Dosen bersama warga kampung Baduy yang menjadi guide kami (sumber : dokumentasi panitia field Trip to Baduy Unindra 2015)

Foto dulu sebelum melanjutkan perjalanan (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy 2015)

Foto dulu sebelum melanjutkan perjalanan (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy 2015)

07.30. perjalanan menuju kampung Baduy dalam dimulai. Semua peserta berjalan sesuai kelompok yang tertera di kartu peserta. Tiap kelompok ditemani satu guide dari orang Baduy langsung dan ditemani satu orang panitia. Kelompok 1 mulai berjalan diikuti kelompok 2, kelompok 3, dan kelompok 4. Pak Ismail sebelum melakukan perjalanan bilang, “Untuk menuju kampung Baduy Dalam perkiraan perjalanan ini memakan waktu 4-6 jam dengan jarak tempuh 12 s.d 13 Km.” Sebelum berangkat, saya memastikan kembali persediaan air minum yang saya bawa, makanan ringan yang saya bawa, dan merapikan posisi ransel agar seimbang, tidak berat sebelah. Prinsipnya gak mau merepotkan orang lain. Sebagian peserta sebelum berangkat membeli tongkat berukuran 1 meter lebih untuk penyanggah dan membantu keseimbangan kaki melewati jalan yang terjal. Ketika di dalam perjalanan ini saya juga melihat beberapa peserta yang memakai tas Carrier (tas yang dipakai para pendaki gunung). Suara derap sepatu terdengar bergantian. Jalan setapak yang kami lalui masih terlihat basah dan lembab. Sepertinya kemarin turun hujan disini.

Peserta berjalan mengikuti jalur setapak di suasana pagi hari (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Peserta berjalan mengikuti jalur setapak di suasana pagi hari (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Dua kilometer pertama jalan setapak yang kami lalui berupa bebatuan bertingkat-tingkat. Bentuk jalannya menanjak namun tidak tajam. Samping kiri dan kanannya berderet pohon-pohon besar dan tinggi. Disini kami melewati tiga perkampungan penduduk yang rumahnya semua sama bentuknya, yaitu rumah panggung. Seluruh tiang pondasi dan atapnya terdiri dari kayu dan bambu. Semua peserta melangkahkan kaki mengikuti alur jalan setapak yang kian memanjang. Keringat setetes demi setetes mengalir bersamaan dengan kaki yang melangkah. Semakin lama semakin deras. Bagi saya ini bagian yang seru dari proses pendakian. Semua tubuh bekerja seirama. Mata melihat ke atas lebih lama dari biasanya. Kaki yang terus melangkah lebih jauh dari biasanya. Pundak yang menanggung beban lebih berat dari biasanya. Lisan yang lebih banyak diam dari biasanya. Hati yang merendah karena betapa hebatnya kuasa Allah dalam menciptakan alam raya ini.

Pagi yang berbeda. Melewati pagi dengan langkah bersama menyusuri hutan dan bukit menjadi bagian dari perjalanan ini. Semua peserta merasakan hal yang sama. Rasa lelah yang mendera memaksa kaki untuk terus melangkah, rasa sabar dan saling pengertian dikala menunggu teman yang sedang beristirahat, padahal rasa ingin cepat sampai tujuan lebih cepat yang sudah menyelimuti ego diri terkalahkan dengan persepsi, “disini kami tidak mencari siapa yang tercepat sampai puncak atau tujuan yang kami tuju, disini yang kami cari adalah rasa kebersamaan, kepedulian, dan kerja sama tim.” Perjalanan mendaki gunung Baduy ini tidak bisa dibilang perjalanan santai. Perjalanan yang butuh kesiapan mental, menurunkan ego sementara untuk memilih mengerti kondisi satu dengan yang lainnya. Memilih berbagi tenaga juga berbagi semangat.

Peserta di dalam proses pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Peserta di dalam proses pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Peserta menyusuri jalur menanjak (sumber : dokumentasi pribadi)

Peserta menyusuri jalur menanjak (sumber : dokumentasi pribadi)

Menuju kampung Baduy Dalam kami tidak hanya melewati jalur yang menanjak. Bisa dibilang hampir seimbang antara jalur menanjak dan jalur menurun. Memang kenyaatannya kami melalu proses keduanya. Satu saat kami melalui jalur menanjak tinggi meskipun tidak curam. Pada saat yang berbeda kami melewati jalur menurun cukup jauh. Ada yang unik yang saya temui dibagian proses jalur menurun yaitu setiap jalur menurun pasti ada sungai kecil yang kamu lalui. Selalu begitu. Di saat inilah sepatu kami mau tidak mau basah. Dan basahnya sepatu itu membuat sepatu lebih licin. Kemungkinan terpeleset lebih besar. Ditambah lagi di sekitar sungai kecil itu dikelilingi lumut-lumut tebal. Jadi mesti ekstra hati-hati. Bagi saya bagian terberat dari pendakian ini adalah saat melalui jalur yang menurun. Karena memang benar kata kebanyakan pendaki bahwa menurun dari gunung adalah bagian yang akan membutuhkan energi lebih besar dibanding ketika menanjak. Yang saya pahami proses menuruni jalan setapak itu butuh kesiapan otot kaki yang kuat dan keseimbangan menahan beban berat dipundak. Disini saya jatuh satu sampai dua kali saat melalui jalur menurun ini. Tidak ada luka serius. Paling malu aja jadi bahan tertawaan teman-teman yang bareng mendaki.

Hari sudah siang. Matahari sudah memancarkan panasnya. Semuanya peserta sudah beristirahat berkali-kali. Istirahatnya juga sederhana seperti, duduk meluruskan kaki, menyenderkan pundak di gundukan tanah atau pohon besar, sambil meneguk air aqua, dan melepaskan ransel berat yang ada di pundak. Disinilah letaknya kebersamaan. Lelah bersama untuk mencapai tujuan yang diingini bersama. Semilir angin yang mengenai wajah juga tubuh dan pohon-pohon besar disekitar kami beristirahat membuat kami sejuk di tengah hari ini. dalam pendakian di gunung Baduy ada yang unik disini pedagang air minum mengikuti jalur kami berjalan. Setiap diantara kami beristirahat, pedagang tersebut ikut istirahat dan menawarkan air minum yang akan dijualnya. Si pedagang ini menjual minuman dingin seperti aqua botol, Mizone, Pocari Sweet. Dia mengangkut barang tersebut sendirian dari bawah (terminal Ciboleger) hingga naik ke puncak gunung Baduy dan berlanjut ke kampung Baduy dalam. barang yang dijualnya dimasukkan dalam dua ember ukuran besar dan diangkut dengan kayu dipundaknya. Kebayang gak lelahnya? Jadi siapapun yang akan mendaki gunung Baduy ini gak usah takut kehausan. Ada abang yang jualan air hehehe. Terus juga bukan cuman ada si abang yang jualan air minum. Tapi disini, sejak awal pendakian ada bapak-bapak, remaja, dan anak-anak yang tinggal di sekitar kampung Baduy yang menawarkan jasa angkut tas sampai tujuan kampung Baduy dalam. Biaya relatif murah Rp 25.000,- sampai dengan Rp 35.000,- dengan jarak tempuh 12 kilometer.  Saya menghirup nafas lega melihat kampung Baduy Dalam sudah di depan mata. Mata yang berbinar t tidak menyangka kami akhirnya sampai juga ke tempat ini. Senyuman yang merekah menghiasi wajah kami siang ini.

 

Selamat datang di Kampung Baduy Dalam.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 21 Desember 2015

 

Advertisements

One thought on “Menyapa Bukit Gunung Baduy part 2

  1. Satu Hari di Kampung Baduy | imron26 January 28, 2016 at 7:15 pm Reply

    […] 2. Menyapa Bukit Gunung Baduy (Bagian 2) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: