Trip To Merbabu via Jalur Wekas 2

 

Pukul 05.52 tiba di stasiun Semarang Poncol.  Di atas sana mentari perlahan menampakkan dirinya. Cahayanya menyapa bumi dengan sangat ramah. Menerpa beragam wajah di pagi ini. Udara yang masih sejuk menyambut kedatangan kami di kota Semarang ini. Setelah turun dari kereta, kami duduk-duduk di di kursi tunggu penumpang. Ada yang merebahkan kaki, bercengkrama satu sama lain, minum kopi yang dibeli di pedagang yang berjualan di stasiun. Semarang, kota ketiga di Jawa Tengah yang saya kunjungi setelah Klaten dan Yogyakarta.

Di luar stasiun kami bertemu dengan dua orang pemuda yang akan menemani perjalanan kami mendaki gunung merbabu (guide), Bang Ali dan Bang Bayor. Keduanya berasal dari Garut. Kami sarapan di warung makan yang berada di seberang stasiun. Ketika makan, saya teringat sejak semalam saya belum makan nasi. Kemarin sore pulang kerja langsung ke meluncur ke rumah Pak Sutaryanto (rekan kerja) yang berada di lenteng Agung untuk meminjam tas carrier  lengkap dengan matras, dan sleeping Bag. Dari sana pulang ke rumah langsung packing ala kadarnya, sebisa nyusunnya di tas besar ini. maklum pendaki pemula hehehe, gak ngerti aturan packing perlenkapan ke dalam tas cariier. Pokoknya sarapan kali ini benar-benar nikmat. Tapi dalam hati saya masih ada keraguan. Bukan keraguan deh. Lebih tepatnya kegalauan dan kekhawatiran. Apa nanti saya bisa mengikut alur temen-temen dalam mendaki? Apa saya bisa nggak ngeberatin temen-temen yang lain dalam perjalanan kali ini? ahh, masih bener-bener pemula. Saya coba menepis kegalauan itu, disini saya tidak sendirian.

Perjalanan menuju Merbabu dimulai. Dengan menaiki tiga mobil taksi kami menuju Wekas, salah satu basecamp jalur pendakian menuju puncak Merbabu. Oh ya jangan salah kira ya Taksi di Semarang ini beda dengan Taksi di Jakarta. Taksi disini mobil penumpang seperti Toyota Avanza, Honda Mobilio, Daihatsu Xenia. Jadi satu mobil bisa muat 7 penumpang. Tapi kali ini, rombongan kami dengan tas-tas besar lagi berat menaiki taksi ini gak mengindahkan aturan mesti 7 penumpang. Di taksi yang saya naiki aja ada 8 orang penumpang. Kok bisa? Yah dipaksain. Untuk yang ini jangan ditiru ya hehehe.  Pegel luar biasa badan gak bisa gerak kemana-mana. Sampai saya kaget sendiri lihat di display speedometer mobil dengan simbol muatan “overload” kedap-kedip.

Taksi mulai berjalan. Dua jendela sebelah kiri dibuka. Angin pagi ini menemani perjalanan kami. Hari ini hari Jumat. Hari kerja. Tapi tidak ditemukan macet panjang di jalan yang kami lalui. Dari stasiun Semarang sampai pintu tol (aduh lupa nama tolnya) jalanan di dominasi oleh kendaraan roda empat. Dan kendaraan disini tidak sepadat di Jakarta. Jalan di Semarang ini bisa lebar-lebar. Di Jakarta mungkin sulit menemukan jalan dengan lebar seperti disini. Sepanjang jalan tol mata kami terkagum-kagum memandangi beberapa gunung yang berdiri kokoh dengan megah dan gagah. Maha suci Allah yang Maha Pencipta. Ada yang segera meng-capture pemandangan tersebut dengan gadget yang dimiliki. Sudah hampir satu jam di mobil, satu per satu diantara kami mulai tertidur. Termasuk saya. Rasa kenyang dan lelah bercampur mengirim sinyal ke mata untuk tidur.

Jam 10.30. Taksi yang kami naiki sudah sampai pertama di basecamp Wekas. Dua taksi yang dinaiki rombongan kami belum sampai. Kami turun dari taksi disambut udara sejuk dan pemandangan Semarang dari dataran tinggi ini. Matahari sudah berada hampir di tengah. Panasnya tetap terasa. Cerah sekali hari ini. Sinyal telepon selular sejauh ini masih lancar. Belum ada gangguan. Tidak lama kemudian, datang satu mobil taksi disusul satu taksi lainnya. Ternyata dua taksi itu rombongan kami. Di sini, saya sempatkan mengirim pesan singkat ke Pak Sahrudin, dosen mata kuliah manajemen keuangan. Memberi kabar kepadanya kami berempat (saya, Safira, Fatma, Devi) tidak bisa ikut kuliah hari ini, karena sedang ada kegiatan mendaki gunung Merbabu. Pesan terkirim. Beberapa menit, Handphone saya berbunyi. Ku buka pesan baru. “Iya, lanjutkan”, jawaban dari Pak Sahrudin. Di basecamp ini, persiapan terakhir sebelum pendakian dilakukan. Saya sendiri membeli sepasang sarung tangan dan dua botol aqua 1,5 liter di warung sebelah basecamp. Saya  juga dibantu Bang Ateng packing barang dan perlengkapan disusun ulang ke dalam tas carrier.

IMG_20150918_103628

Jam 13.30. Seluruh rombongan sudah berdiri di depan basecamp dengan tas carier di pundak masing-masing. Hampir semua memakai sepatu gungung. Semuanya wajah siang ini penuh semangat. Wajah yang penuh optimis. Jujur, di rombongan ini saya baru mengenal berapa nama baru, seperti Bang Alfan, Bang Wildan, Bang Dicki, Bang Ateng,  Bang Ali dan Bang Bayor. Semoga dengan waktu yang akan kami lewati, saya bisa mengenal dan berbaur dengan teman baru.

“Baik, mari kita sama-sama berdoa semoga perjalanan kita sampai tujuan dengan selamat dan turun kembali juga dengan selamat. Berdoa dimulai.” Bang Wildan memandu doa bersama sebelum pendakian. Semua menunduk. Berdoa khusyu’. Berharap semoga semua lancar-lancar saja. Ya Rabb, mudahkanlah perjalanan kami menuju tempat yang kami tuju.

IMG_20150921_102126_1443439017043

Pendakian dimulai. Derap-derap sepatu terdengar meski tak beraturan. Bang Dicki berjalan paling depan memimpin. Langkah demi langkah melaju. Beberapa memilih sambil ngobrol ringan. Sebagian memilih diam sambil terus melangkah. Saya sendiri mencoba mengatur irama langkah agar tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Menyesuaikan dengan irama langkah temen-temen yang lain. Saya juga mengatur nafas agar energi yang keluar terisi kembali. Agar tidak cepat lelah. 300 meter pertama kami melewati pemukiman warga. Disini kami masih melewati jalan warga yang agak lebar. Setelah itu yang tersisa hanya jalan setapak. Pemandangan selanjutnya adalah kebun sayur milik warga. Suara tarikan nafas kian terdengar bergantian. Ada yang memilih berhenti mengatur nafas dan merenggangkan kaki. Soalnya jalan yang dilalui semakin lama semakin menanjak. Ditambah lagi dengan beban di tas yang puluhan liter yang ada di punggung. Saya juga melakukan hal itu. berhenti sejenak, satu sampai dua menit. Menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkan kembali. Berulang kali.

Perjalanan terus berlanjut. Keringat sudah membasahi pakaian kami. Siang semakin terik. Jalan setapak yang dilalui juga kian menanjak. Kami semua berharap menemukan pijakan jalan yang datar agar tidak menguras energi. Tetapi jalan yang seperti itu sulit sekali ditemui. Kalaupun ada paling hanya hitungan meter saja. Sebagian sudah mulai meminum air, memilih duduk, istirahat, meregangkan kaki, lalu bersandar di gundukan tanah atau pohon yang agak besar. luar biasa nikmatnya air yang masuk ke kerongkongan ini. Semua berusaha kompak, saling membantu, saling memberi air minum apabila ada yang kehausan, saling menunggu bila ada teman yang sedang istirahat sejenak. Persaudaraan yang begitu kuat sesama pendaki sangat saya rasa rasakan disini. Walaupun satu dengan yang lain belum saling mengenal. Rasa ego sepertinya sudah berhasil mereka taklukan oleh rasa peduli dan cinta pada sesama. Untuk hal yang satu ini saya belajar dari mereka. Suatu hari saya akan merindukan saat-saat seperti ini.

 

Jakarta, 20 Oktober 2015

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: