Tips Menulis

Sudah enam bulan aku bekerja sebagai staff Accounting di perusahaan ini. aku merasakan ada hobi baru yang aku sukai, yaitu hobi membaca blog. awal mula hobi ini mungkin karena memang lima hari  dalam seminggu aku duduk di depan komputer selama delapan jam per hari. di sela-sela waktu itu, aku sering memanfaatkan untuk browsing. saat itu pula aku suka baca blog.

 

Aku suka blog yang berisi pengalaman penulis blog yang ditulis dengan bahasa sehari-hari. dari sana  saya menangkap, kok bisa ya mereka (penulis blog) menulis seperti itu? lalu timbul pertanyaan dalam hatiku, apa aku bisa menulis? apa nantinya tulisanku bisa sebaik blogger-blogger ini? untuk bagian ini aku ragu mengiyakan. sudahlah, yang penting aku suka dengan hobi membaca, itu juga sudah membuatku senang.

 

“Mas Imron, belum pulang?” pertanyaan seorang Office Boy membuyarkan lamunanku sore itu.

“Eh Mas rian. iya mas sebantar lagi. ini mau siap-siap pulang.” jawabku datar

 

Aku pulang. sore ini aku harus bertanya sama siapa atau lebih tepatnya saya mesti cerita sama siapa  tentang keinginanku untuk menulis. aku belum pernah ikut komunitas menulis dan belum pernah mendengar teori-teori dalam kepenulisan.

 

Satu minggu berlalu.

 

Hari ini hari Senin. Pak Denny, selaku General Manager, meminta seluruh karyawan berkumpul di aula pertemuan. “temen-temen semua, hari ini saya ingin memperkenalkan seorang karyawan baru di kantor kita namanya Ana Alfina. Disini dia akan membantu divisi Finance dan Accounting. Saya mengucapkan selamat bergabung di perusahaan kami.” Jelas pak Denny kepada kami. Setelah perkenalan itu, Ana diberitahu ruangan dan meja kerjanya. Dalam hati aku senang. Eh bukan hanya aku tetapi tim divisi Finance dan Accounting juga pasti senang. Karena dengan bertambahnya jumlah orang di divisi ini akan mengurangi beban kerja yang memang menurut kami sudah sangat terlalu padat.

 

“Ana, ini Imron, rekan kerjamu di divisi ini. Imron, tolong kamu beri arahan dasar dan mengenalkan job description di divisi ini ya. Termasuk dengan lingkungan kerja disini seperti apa. Bapak percaya kamu bisa membantu Ana untuk memahami tugas-tugas dan menyesuaikan di lingkungan kerja yang baru ini.” pinta Pak Denny dengan sorot mata yang meyakinkan.

 

“Baik Pak, saya akan membantu menemani Ana untuk menjelaskan tugas-tugas yang dikerjakan.” Jawabku mengiyakan sambil tersenyum.

 

Minggu pertama, saya mencoba memperkenalkan siklus kerja kepada Ana. Mulai dari pembuatan voucher Bank, pencatatan transaksi di aplikasi software akuntansi, sampai menyusun laporan keuangan. Dalam satu minggu ini, saya lebih banyak menerangkan berkas-berkas yang akan dicatat, lebih banyak share tentang kondisi karyawan disini yang sudah ku anggap seperti keluarga karena sudah saking akrabnya satu dengan yang lainnya.

 

“Disini Ana, tidak perlu malu dan sungkan untuk bertanya dan minta tolong. Disini kita saling bantu kok. Mungkin awalnya kaku, sedikit jaim, tapi lama-kelamaan juga bisa berbaur dan akrab dengan yang lain.”

 

“Iya Mas Imron. Saya coba untuk memahami lingkungan kerja disini dan rincian kerja yang diberikan kepada saya. Maaf juga ya Mas Im kalo saya sering ganggu waktu kerja Mas untuk bertanya pekerjaan yang belum saya ngerti.”

 

“santai aja Ana. Membantu Ana kan bagian dari tugas saya yang beberapa waktu lali disampaikan Pak Denny, masih ingat?.”

 

“Oh iya, iya saya ingat itu.”

Satu bulan berlalu.

 

“Mas Imron, ini saya ada brosur seminar kepenulisan di Univ. Negeri Jakarta hari minggu ini. barangkali Mas tertarik ikut, Mas bisa datang.” suara Ana membuatku menengok setengah kaget. Aku terdiam sejenak.

“Dilihat dulu brosurnya nih.” Pinta Ana sambil menyerahkan brosur kepadaku.

 

Aku membaca brosur tersebut. Mataku melihat nama pembicara seminar tersebut adalah Tere Liye, penulis novel yang kini banyak diminati remaja termasuk aku. Aku tidak bisa membohongi aku sedang bahagia. Ini mungkin jawaban dari kegalauanku untuk mulai menulis. Tapi aku heran kenapa Ana seperti seolah-olah tahu kalo aku memang sedang bingung untuk memulai menulis.

“Mas Imron kok diam.”

Gak apa-apa Ana. Kenapa Ana memberikan brosur ini kepada saya?

Emang gak boleh? Jawab Ana dengan raut wajah meledek.

“Boleh aja. Tapi kok seperti Ana ngerti hal yang sedang aku bingungi.”

“hehehe. Aku hanya nebak aja Mas Im. Sudah satu bulan saya kerja di kantor ini dan satu ruangan sama Mas Im, Mbak Rini, dan Pak Rifa’i. Dan meja yang paling dekat dengan aku kan, Mas Im. Ini hanya hasil amatanku aja, Mas Im suka baca blog yang isinya diary penulis blog, artikel-artikel, cerpen-cerpen di blog.  Dan sepertinya Mas Im juga tertarik dengan dunia menulis. Buktinya, satu minggu belakangan ini tiap setengah jam sebelum dimulai jam kerja, Mas Im selalu nulis dua atau tiga paragraf. Kadang juga Ana lihat Mas Im gak pede denga tulisan Mas Im. Seperti Mas Im sering mencorat-coret kata yang salah. Membuang kertas hasil tulisan yang menurut Mas Im gagal. Ana pikir nanti di dalam seminar kepenulisan ini Mas Im bisa lebih mengerti tentang tips menulis.” Ana menjelaskan.

“hm iya iya. Ana benar. Aku sedang bingung untuk menulis yang baik itu yang gimana? Aku menulis tiap pagi hanya niat coba-coba aja. Tetapi seringnya aku merasa tulisanku jelek. Terlalu kaku, datar aja gitu. Itu saja sudah membuat saya gak pede untuk mulai nulis lagi.”

 

Siang itu juga saya daftarkan diri ikut seminar tersebut dan kemudian saya transfer biaya seminar sejumlah biaya yang tertera di brosur di mesin ATM yang letaknya tidak jauh dari kantor. Aku mengusap wajahku, berharap semoga di seminar ini aku menemukan titik terang atas kegalauanku dalam menulis. Tak terasa keringat di dahiku mengucur. Semakin lama semakin menderas. Siang ini benar-benar panas. Ku naiki sepeda motor ku dan ke putar tuas gas. Aku kembali ke kantor.

 

Hari Minggu.

 

Satu jam sebelum acara dimulai aku sudah sampai lokasi seminar. Sudah agak ramai. Memang penulis yang mengisi seminar kali ini benar-benar dinantikan banyak orang terutama para mahasiswa. Tepat pukul 09.00 pagi acara dimulai. Suasana gedung aula Sertifikasi Guru Universitas Negeri Jakarta sangat ramai, bahkan tumpah keluar ruangang. Beberapa panitia terlihat sibuk menata kursi agar semua bisa menyaksikan seminar ini dengan posisi duduk.

 

Acara dibuka dengan sambutan dari penyelenggara seminar. Moderator mempersilahkan Bang Tere Liye menyampaikan materi kepenulisan. Saya menangkap tiga poin dari apa yang disampaikan Bang Tere, menulis memiliki sudut pandang yang spesial, menulis membutuhkan amunisi (banyak membaca buku), menulis butuh kebiasaan. Poin yang ketiga menulis butuh kebiasaan ini yang sangat menarik bagi saya.

 

Bang Tere bilang, “6 bulan kalian menulis 1000 kata sehari, kalian akan menjadi penulis yang baik. Dititik hari ke 181 kalian akan jadi penulis yang tak perlu panduan dalam menulis. Tapi bang tere, saya kalau di blog ingin banyak yang comment, banyak yang like? kalau kalian punya cita-cita seperti itu, maka kita sudah beda paham, saya datang mengajari kalian untuk jadi penulis yang baik, menulis bukan untuk perhitungan jumlah like atau jumlah comment  karena penulis yang baik tidak pernah peduli comment dan like orang, tak pernah peduli jadi buku atau tidak, ia hanya menulis. Seperti pohon kelapa, dia tidak pernah peduli kemana buah kelapanya jatuh dan memyebar. Tidak mungkin pohon kelapa mencatat kemana perginya buah kelapanya.”

 

Diakhir pertemuan bang Tere Liye memberikan pesannya, closing yang katanya sama disetiap workshop yaitu…

“Adik-adik sekalian, ada sebuah nasihat tua yang sangat indah.. apa itu nasihatnya? Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, jika kalian tanam 20 tahun yang lalu, maka hari ini kalian akan mendapatkan pohon yang besar, buahnya banyak, daunnya rimbun, batang ranting yang sudah tua bisa dijadikan kayu bakar. ‘Bang Tere saya sudah terlambat, saya baru dengar nasihat ini sekarang, sedangkan saya sudah berusia 20 tahun.’ Maka camkan ini baik-baik… waktu terbaik kedua menanam pohon adalah hari ini, dan setelah itu .. tidak ada lagi waktu terbaik… tidak ada. Karena bila kalian menanam pohon hari ini, 20 tahun kemudian kalian akan menemui pohon kalian berbuah banyak, daunnya rimbun. Maka, jangan terlambat lagi ya adik-adik.. jangan terlambat. Karena 20 tahun yang akan datang akan cepat, karena waktu itu Kejam. Catat baik-baik nasihat saya ini.”

 

Hari ini berkesan sekali buatku. Seminar ini mengubah cara pandangku menulis. Kini, dalam hatiku hanya ingin menulis dan menulis. Tidak lebih.  Tanpa peduli banyaknya like dan comment. Karena menurutku menulis adalah berbagi cerita yang dirasai dan sarana me-muhasabahi diri untuk menjadi pribadi yang baik dari waktu ke waktu.

 

 

Imron Prayogi

Ditulis Pada : 09/10/2015

Jakarta

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: