Nasehat Sederhana

01 Agustus 2015

Sabtu itu saya libur kerja. Sempat bingung saya mau pergi kemana. Maksudnya apa yang mau dilakukan di hari libur ini. Lima hari kerja kemarin membuat pikiranku tegang. Makanya sabtu pagi itu saya mencari ide aktivitas apa ya yang bisa membuat badan dan pikiran fresh kembali? Saat itu juga muncul beberapa ide tetapi dari sekian ide itu satu yang ku pilih, saya ingin ke Bekasi menemui Ibu Yayah, Ibuku. Sekaligus melihat cucu beliau yang baru lahir.

Nayla Kaisa Izzati. Itu nama bayi perempuan Mbak Tia yang baru lahir itu. Mbak Tia adalah anak sulung dari keluarga Ibu Yayah. Saya tersenyum ketika melihat frame foto Nayla yang berukuran besar dengan gambar wajar yang beragam. Lucu sekali ekspresi yang satu ini, hatiku bergumam ketika melihat foto wajah Nayla yang menyunggingkan senyum. Kabar lahirnya Nayla saya tahu dari Vani, adiknya Mbak Tia yang mengirim kabar melalui sms bahwa Mbak Tia sudah melahirkan dan bayinya perempuan. Mendengar kabar itu hatiku ikut merasa senang. Ku balas sms dari Vani itu dengan kalimat, “Alhamdulillah, saya ikut senang mendengar kabar itu. Semoga kelak menjadi puteri yang sholehah dan menjadi bagian penerus dakwah ya.”

Ku lihat hari itu Ibu sangat sibuk menyiapkan acara yang akan dilaksanakan hari Ahad.  Hari Ahad adalah hari ketujuh Nayla diahirkan dan keluarga Ibu Yayah ingin mengadakan aqiqah atas kelahiran Nayla. Kesibukan Ibu bisa saya lihat dari padatnya makanan yang ada di dapur, kompor yang menyala diatasnya ada panci berukuran cukup besar untuk mengolah gulai kambing,  kardus-kardus putih untuk nasi (baca : kardus nasi kotak) yang sudah ditumpuk rapi. Ketika Ibu sedang istirahat di meja makan, saya mendekati Ibu ingin diskusi ringan tentang apa aja. Kali ini Ibu cerita tentang persiapan acara reuni alumni yayasan Marhmah bulan September 2015. Saya menyimak dan mendengarkan sambil memperhatikan wajah Ibu. Sesekali saya menyampaikan pendapat  saya berkaitan acara tersebut. Rumah Ibu menjadi tuan rumah acara tersebut. Sangat wajar saya (sebagai salah satu alumni) ikut terlibat bagaimana mensukseskan acara ini. Walaupun awalnya gak sempat terpikir siang ini mau bicarain tentang persiapan acara ini.  Oh ya siang itu saya diskusi bertiga, saya, Ibu dan Halim teman satu alumni. Ada rasa sedih yang menyusup di hati ketika Ibu menceritakan acara halal bi halal  alumni yayasan Marhamah minggu lalu dirumahnya.

“Kalian bisa bayangin gak gimana Ibu menyiapkan acara halal bi halal kemarin. Ibu sendirian menyiapkan itu semua dibantu Vani. Mbak Tia sedang hamil tua. Tidak bisa bantu banyak. Lilis dan Endeh (pembantu di rumah Ibu) juga sedang pulang kampung. Ibu sedih sekali. Tapi Ibu mengerjakan itu semua dengan rasa senang, berharap besok Ibu bisa bertemu anak-anak Ibu lagi. Ibu bicara seperti ini bukan untuk mengungkit kembali yang sudah terjadi, ibu ingin Imron dan Halim serta teman-teman alumni mengerti ini acara kita bersama dan untuk kita bersama. Ibu ingin kalian belajar sedikit tentang kepedulian. Ibu ingin kita saling kerja sama mempersiapkan acara ini. Ibu gak ingin ada anak Ibu yang karena tidak ada uang tidak datang hadir di acara reuni ini. Ibu tidak ingin seperti itu. Ibu sudah tidak seperti dulu lagi. Ibu sudah tidak bekerja dan digaji lagi. Ibu sekarang hanya berjualan kue yang bisa Ibu buat. Ibu ingin anak-anak Ibu yang sudah bekerja sama-sama iuran untuk acara ini. Ibu hanya ingin persaudaraan dan keakraban yang sekian lama kita rajut bisa terus terjaga,” Kudengar suara Ibu sedikit serak menahan emosi dan matanya berair tapi belum menetes.

Ku mengerti perasaan Ibu siang ini. Mengerti betapa lelahnya hati dan fisik Ibu ketika menyiapkan dan menanggung acara ini (berupa makan siang, snack, sirup) untuk menyambut kami. Kami yang dahulu diasuh, dirawat, diberi kasih sayang begitu halusnya bertahun-tahun sampai saat ini masih saja memberatkan dan membebani Ibu. Rasa sedih dan haru seketika itu menggelayuti  hatiku. Mungkin Halim juga.  Mataku mulai memanas mendengar kata-kata Ibu tadi. Pada bagian pembicaraan ini, saya lebih banyak menunduk dan diam. Saya benar-benar merasa bersalah. Kenapa saya yang sudah beranjak dewasa ini tidak terbersit membantu Ibu. Padahal saya sudah hidup bersamanya lebih dari sepuluh tahun. Saya sudah dianggap anak sendiri olehnya. Ya Tuhan, saya ternyata masih egois, masih terlalu sibuk pekerjaan, lupa diri kepada orang yang sudah begitu besarnya mengasuhku. Padahal dibalik kesuksesan saya hari ini ada uluran tangan yang ikhlas menyayangi, ada tangan yang menengadah dengan penuh harap tulus mendoakan, yang sabar mendidikku menerima kehadiranku apa adanya. Dialah Ibu Yayah.

Terimakasih Tuhan atas kesempatan hari ini. Takdir hari ini menyadarkanku untuk rendah hati, belajar lebih peduli, tidak melupai kebaikan orang yang telah berbuat baik kepadaku. Hari ini, saya masih bisa berjumpa dengan Ibu Yayah dengan kondisi sehat. Berbincang dengannya, bercanda dan tertawa bersamanya. Wajah Ibu yang selalu kurindukan, hari ini saya bisa menatap wajahnya kembali. Disini, dirumah ini saya selalu menemukan dan semakin mengerti arti keluarga, arti kasih sayang yang sesungguhnya, arti saling menghargai, arti kepedulian yang mendalam.

 

Selesai Ditulis di Jakarta, 04 Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: