Menyapa Diriku

Masa depan adalah mimpi, harapan, juga cita-cita. Setiap orang punya harapan yang ingin dicapainya. Menatap masa depan sedikit banyak mempengaruhi cara pandangku mengenai waktu dan kehidupan. Hidup akan terus berjalan dan akan terus berjalan. Tak peduli setiap orang menyikapinya. Waktu akan terus bergulir. Selangkah demi selangkah kebaikan yang kita tanam hari ini akan menuai hasilnya di kemudian hari. Keringat yang mengucur, rasa lelah yang membalut diri,  kaki yang terus melangkah menjadi saksi bahwa dalam meraih keberhasilan butuh banyak pengorbanan dan kelapangan jiwa.

Kadang rasa penat yang menggelayuti diri, saya merenungi banyak hal, dalam menapaki jenak-jenak kehidupan saya tidak bisa berjuang sendiri. Terlalu berat menanggungnya. Mungkin diri ini terlalu egois. Padahal ya Tuhan, Engkau telah memberikan karunia berupa ikatan ukhuwah, pertemanan yang dibingkai dengan rasa iman.  Saya butuh tempat bersandar, tempat bercerita  berbagi kisah dan pengalaman yang dirasa, saling memahami, dan saling memberi. “Tidak ada kata terlambat ron untuk berubah ke arah yang lebih baik”, salah satu sisi hatiku mencoba menenangkan. Belajarlah menerima pengalaman yang telah lalu sambil terus memupuk azzam ingin memperbaiki diri. Bersahabatlah dan ceritakanlah apa yang kamu rasa kepada sahabatmu yang kamu percaya bisa menjaga detail kisah hidupmu. Mulailah dengan niat ingin menghijrahkan diri dengan usaha yang dimampui.  “Tidak ada orang yang tega melihat sahabatnya menanggung masalah sendirian, berjuang sendirian. Tidak ada Ron,” hatiku kembali mengingatkan.

Tidak ada yang salah Ron ketika kamu membagi persoalan hidup yang sedang kamu hadapi, bercerita tentang kekurangan diri yang kamu miliki yang kian mengusik ketenangan hidupmu, selama kamu bermaksud memperoleh solusi dan dukungan dari sahabatmu. Berbagilah kisahmu, tidak ada manusia yang sempuna. Dengan kekurangan diri menyadarkan manusia untuk rendah hati dan tidak membanggakan diri dengan sesamanya. Alirkan energi positif dalam dirimu, dengan berbaik sangka bahwa persoalan hidup yang kini dihadapi merupakan kasih sayang Allah kepadamu. Bukankah ketika ujian menyapa, dirimu menjadi sering berdoa denga penuh rasa pengharapan? Bukankah tidak jarang setelah usaha-usaha yang kamu lakui, pada akhirnya kamu memasrahkan diri hasilnya kepada Allah?

Sahabat terbaikmu adalah sahabat yang selalu berkata benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkanmu. Dia adalah cermin dirimu yang selalu mengingatkanmu ketika ada ucapan dan sikapmu yang keliru. Dia selalu memberikanmu ruang untuk berbagi cerita. Dia adalah orang yang selalu mendoakan kebaikan untukmu tanpa sepengetahuan dirimu. Dia selalu mau menyemangatimu ketika semangat ibadahmu, semangat kerjamu, dan semangat belajarmu turun. Dia adalah orang yang selalu tersenyum tulus kepadamu begitupun dia ingin melihat wajahmu selalu tersenyum walaupun dirimu sedang sedih sekalipun. Dia adalah orang  yang berusaha menjaga ucapannya dari perkataan yang menyakiti hatimu ataupun orang lain. Dia adalah orang yang selalu menjaga silaturahmi denganmu dari waktu ke waktu tanpa peduli dengan jarak yang ada.

 

Jakarta, 9 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: