Dalam Bingkai Ukhuwah

Saya yang sedang duduk di depan konter HP melihatnya sosok yang sudah tidak asing. Ya dugaanku benar, itu Kak Ridhwan. Guru sekaligus Kakak yang beberapa waktu lalu saat saya masih tinggal di asrama. Sore itu dia baru saja kembali dari Taman Galaxi bersama istri dan anaknya dengan menaiki motornya. Memang bisa dibilang mendadak saya bertemu dengannya sore itu. karena saya baru mengabarinya satu jam yang lalu. Ketika saya ingat bahwa saya pernah dapat kabar bulan Ramadhan yang lalu darinya ingin bertemu di liburan Idul Fitri nanti.

Saat melihatnya, saat itu juga saya memanggil setengah berteriak, “Kak Ridhwan”

Spontan dia mendengar panggilanku dan menengok ke arahku. “Eh, Imron. Ya sudah ayo langsung ke rumah aja.”

Saya bergegas menaiki motorku dan mengikutinya dari belakang. Ketika sedang mengendarai motor, saya gak bisa menahan senyum. Ya Tuhan, inikah yang disebut indahnya ikatan persaudaraan dalam Islam. Saya lebih banyak menunduk. Gak enak kalo Kak Ridhwan melihat saya senyum-senyum sendiri di motornya. Matahari diatas sana beranjak ke peraduan. Waktu sudah mendekati senja.

Tiba di depan rumahnya. Saya mengucapkan salam sambil melangkah memasuki ruangan rumahnya. Kami berbincang-bincang banyak hal. Tentang aktivitas saat ini, tentang kabar alumni Marhamah yang lain, tentang tempat tinggal saya saat ini, tentang pengajuan kredit rumah saya yang baru saja di setuju bank BTN bulan Ramadhan lalu. Dia yang sejak dulu ku kenal orang yang agak pendiam, irit kalo berbicara, murah senyum, pendengar yang baik. Aktivitasnya juga masih sama yaitu pengajar di lembaga bimbingan belajar di Bintang Pelajar. Sore itu juga sikapnya masih sama ku rasakan seperti beberapa tahun lalu saya mengenalnya. Hanya statusnya saja yang berbeda. Sekarang dia sudah menikah dan memiliki seorang putri. Fatimah Adzkiya Al-Badriyah nama putrinya itu. Usia putrinya mendekati dua tahun.

Beberapa tahun lalu dia adalah guruku sekaligus kakak senior di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Saya mengenalnya sejak ikut training-training yang diadakan organisasi itu. Mulai semakin akrab ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMA. Saya minta tolong kepadanya untuk mengajariku Matematika persiapan Ujian Nasional. Dan dia menyanggupinya. Satu minggu satu atau dua kali dia menyempatkan datang ke asrama mengajariku Matematika. Belajarnya dimulai setelah shalat Isya. Setelah lulus SMA, kami masih berkomunikasi via SMS. Bertemu dengannya semakin jarang. Terakhir kami bertemu sekitar awal tahun 2012 di asrama. Saat itu saya sedang ada masalah dalam keluarga dan ingin bercerita dengannya. Saat itu saya menceritakan apa yang saya rasakan, keadaan sikap anggota keluarg saya, masalah pelik yang sedang saya hadapi. Dengan bahasa yang santun, dia  memberikan beberapa saran juga nasehat untuk menyelesaikan masalah itu. Semua itu didasari rasa tolong menolong dalam kebaikan.

Saya belajar banyak dengan mengenalnya. Terutama rasa mau berbagi dan peduli dengan sesama. Dia mau mengajariku Matematika sepekan satu atau dua kali tanpa ada bayaran sepeser rupiah pun yang dia terima. Saya hanya belajar dengan sungguh-sungguh dan selesai belajar saya bilang, terimakasih Kak Ridhwan. Dia mau menolong orang ketika orang tuaku sedang membutuh sejumlah uang dan ia membantu dengan memberi pinjaman uang. Sore itu juga saya mengingatinya bahwa orang tuaku masih punya utang kepadanya. Dan saya berazzam untuk menggantinya dalam waktu satu atau dua bulan ini. Semoga Allah memudahkanku melunasi utang orang tuaku.

Berjumpa dengannya sore itu membuatku semakin sadar betapa selama ini saya dibantu banyak orang demi kesuksesanku sekarang. Sejatinya saya tidak boleh lupa diri apalagi sombong. Sebisa mungkin terus menjalin silaturahmi. Bukankan ikatan persaudaraan yang dibalut dalam bingkai keimanan lebih kekal dan kuat dibanting ikatan persaudaraan yang didasar ikatan keturunan? Rasa peduli, mau berbagi, bersedia mendengarkan masalah saudaramu adalah kebaikan dalam membanytu sesama manusia. Sore itu juga saya belajar darinya bagaimana menjadi muslim yang sejati muslim yang memelihara sikap istiqomah.

 

Jakarta,  23 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: