Berjumpa Kembali Kawan

Ahad, 19 Juli 2015

Hari ini saya menuju Bekasi. Jalan raya lancar sekali mungkin karena liburan Idul Fitri dimana sebagian warga jakarta melakukan mudik ke kampung halamannya masing-masing. Suasana lebaran masih tetap terasa disini. Bisa dilihat dari banyaknya pengendara yang mengenakan pakaian yang mereka pakai dengan motif bermacam-macam dengan warna-warni (ku kira ada pelangi di sepanjang jalan raya yang kulalui) tapi dengan satu pandangan bagi orang yang melihat fenomena itu pasti memiliki pandangan bahwa pengendara itu ingin berpergian untuk silaturahmi ke sanak kerabat dan saudara terdekat maupun mengajak keluarganya berlibur ke tempat wisata yang diingini.

Mardani. Dani, saya biasa memanggil namanya. Dia adalah teman satu SMA denganku dulu. Hari ini saya ingin bersilaturahmi ke rumahnya di Bekasi. Sehari sebelumnya saya sudah mengabarinya bahwa hari ini saya mau bertemu dengannya di rumahnya dan dia merespon bisa. Sampai Bekasi panas semakin terik. Saya menyempatkan membeli aqua botol. Saya tiba di depan sekolah Al-Masturiyah. Rumah Dani tidak jauh dari sekolah itu. segera saya kabari dia tentang posisi saya saat ini via bbm. Tidak sampai lima belas menit akhirnya saya menemuinya. Dia bersama putrinya yang baru berusia dua tahun lebih menyambut kedatangan saya. Saya memulai memberi salam dan bersalaman. Sudah lama sekali tidak berjumpa dengannya. Dia adalah salah satu teman baik di SMA ku dulu.

Disini kami berbincang banyak hal. Terutama bercerita masa-masa SMA dulu. Bernostalgia hahaha. Bagiku, selalu menyenangkan mengingat kembali masa lalu. Menanyakan kabar temen-temen satu angkatan yang dia tahu. Saya senang berjumpa dengan kondisinya saat ini. Dia yang sekarang sudah menjadi kepada rumah tangga, memiliki keluarga kecil dan sudah mengontrak rumah kecil yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tuanya. Kulihat ada guratan bahagia juga di wajahnya ketika bertemu kembali dengan saya. Walaupun sekian tahun sudah tidak pernah mengobrol seperti ini, rasa canggung diantara kami tidak kami rasakan. Saya berbicara selepasnya. Begitupun dia juga kubiarkan bicara banyak hal tentang apa saja. Sama-sama berusaha saling menghargai sama-sama menjadi pendengar yang baik ketika ada salah satu diantara kami sedang berbicara.

Melihat kehidupan dan rumah tangga Dani yang harmonis, Ingin rasanya saya menggenapkan  separuh agama. Membangun keluarga kecil meskipun sederhana. Saya ingin hidup bersama dengan wanita yang kucintai dalam bingkai rumah tangga dan kupercayai bahwa wanita itu adalah pendamping yang akan menemani perjalanan hidupku. Wanita yang akan menua bersamaku. Tidak ada yang salah dari tiap harapan yang ada Ron, sebelah hatiku menenangkan. Apalagi menikah, membangun keluarga adalah kebaikan.

Kembali teringat di liburan lebaran seperti, banyak diantara saudara dari Ibu saya yang menanyakan tentang kapan nikahnya? Mana calonnya?. Dulu saya menanggapinya dengan tersenyum kecut, menjawab datar doakan saja ya. Mungkin lebih tepatnya terbawa perasaan alias tersinggung. Tapi hari ini saya memahami bahwa mereka yang menanyai kapan nikah? Sebenarnya mereka mengingini kebaikan pada diri saya. Karena menikah adalah kebaikan. Dan peritah dalam agama untuk menyegerakan kebaikan. Karena memang naluriah manusia yang diciptakan untuk berpasang-pasangan. Dengan menikahlah laki-laki belajar langsung bagaimana menjadi suami yang baik, imam rumah tangga yang baik.

 

 

Selesai Ditulis di Jakarta, 21 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: