Bersama Sahabat

Sabtu, 16 Mei 2015

“Ron,” saya mendengar suara yang saya kenal. Ya betul di seberang jalan ada seseorang yang memanggil namaku. Saya tidak bisa menahan tersenyum. Ya Tuhan, terimakasih sudah mempertemukanku dengan sahabat baikku di kota ini. Siang itu Bandung cuacanya cukup cerah. Terasa sekali sejuk udara disini. Dan jalan raya nya tidak sepadat Jakarta. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam dari Jakarta, akhirnya saya tiba di Padalarang, Kab. Bandung Barat.

Walid Abdirrahman, itulah nama sahabatku. Ini pertemuanku yang pertama sejak lima tahun terakhir. Dia tersenyum lembut kepadaku. Berjabat tangan sambil menanyakan kabar saya sekarang. Lima tahun terakhir. Tidak disangka dengan takdir Allah kembali mempertemukan saya dengan sahabatku di tempat yang berbeda dan kondisi yang berbeda. Dia menurutku adalah sahabatku yang selalu menjadi partner dalam berkarya, berlomba dalam kebaikan selama di yayasan bekasi beberapa waktu yang lalu. Dengan dirinya saya menemukan teman yang memiliki kesamaan visi menjadi muslim yang taat. Teman yang tidak pernah mengenal lelah untuk menyemangati, untuk menemani, untuk mendorong meneguhkan lakukanlah bila itu kebaikan. Teman yang selalu peduli, ceritalah apa yang dirasakan, ada masalah apa? Apa yang bisa saya bantu? Teman yang enak diajak diskusi banyak hal. Diskusi tentang sebuah keinginan, tentang rencana beberapa tahun ke depan, tentang buku-buku yang pernah dibaca, tentang masa-masa di asrama dimana kami sama-sama menyimak hafalan Al-Qur’an (muroja’ah) secara bergantian. Semua itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Bersamanya, saya merasa tidak perlu ragu melangkah, tidak perlu takut mencoba, tidak perlu memendam sendiri persoalan yang ada karena dia selalu mau mendukungku dan membantuku menggapai harapan-harapan yang ada waktu itu dan juga kini. Begitupun sebaliknya.

Kini, saat bertemu dengannya kembali saya merasa tertinggal jauh dalam hal mempelajari ilmu agama. Dirinya sekarang sudah menjadi pengajar di sebuah Ma’had Baiturrahman (Ma’had Tahfidzul Qur’an) di Bandung. Dia sudah menjadi barisan penjaga dan penghafal Qur’an. Sedangkan saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk dunia. “Tidak semua orang Islam itu dipilih untuk menjadi generasi yang tafaqquh fid diin ron, tetapi sebagian juga bisa berjuang demi Islam dengan harta dan jiwa ron. Coba kamu baca sejarah bukankah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Khalid bin Walid ra jumlahnya sedikit dibanding hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik ra. Karena memang Khalid bin Walid lebih banyak berjuang dengan jiwanya untuk menegakkan Islam.“ Jawabnya ketika saya mengeluhkan saya lebih banyak mengejar dunia. Hatiku membenarkan. Saya menangkap pesan dari kalimat yang diucapkannya itu apapun profesi kita sekarang ini seorang muslim bisa berdakwah dan memperjuangkan Islam dengan cara yang dimampui.

“Ron, Sebenarnya mengahafal Al-Qur’an itu gak sulit bagi orang yang sibuk sekalipun. Ada dua caranya pertama, mesti fokus dalam arti komitmen sehari mau menghafal dan mau me-muroja’ah (mengulang hafalan). Dua-dua mesti bersamaan dilakukan. Misalnya, waktu fokus menghafal pagi hari sebelum berangkat kerja setengah jam atau lebih. Dan waktu muroja’ahnya malam sebelum tidur. Setiap orang punya waktu fokus yang berbeda. Kedua, jadikan setiap orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, bisa orang tua, teman kerja, teman kuliah sebagai tempat (wadah) mendengarkan hafalan kita.” Pesan Walid untuk saya sore itu setelah mengajar tahsinul Qur’an anak-anak kecil berusia TK dan SD.

Sore itu saya berjalan-jalan di sekitar Ma’had. Melihat anak-anak yang belajar Al-Qur’an dengan semangatnya. Melihat rumah-rumah yang letaknya di bukit-bukit. Melihat kendaraan yang berlalu lintas. Menghirup dan merasakan udara daerah ini. Sungguh sejuk sekali udara di sini. Sesekali angin menerpa dan menyapa wajahku. Menyisakan kesan tersendiri akan kesejukannya. Melihat pemandangan langit  Bandung sebelum senja.

Malam itu saya berpamitan dengan Walid dan Pimpinan Ma’had, Ustadz Iwan. Ustadz Iwan sempat menawari saya menginap di Ma’had malam ini. Dengan bahasa halus saya menjawab saya mau pulang malam ini karena besok pagi ada jadwal kuliah.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: