Panggilan Hati

 

Kamis, 30 April 2015. Hari ini begitu mengesankan. Mengapa? Ya gak kenapa-napa juga. Penasaran? Baiklah, saya mulai bercerita.

Bermula dari dosen mata kuliah Manajemen Umum Bapak Syahidin yang menyampaikan materi tentang motivasi. Menurut beliau, “Motivasi adalah dorongan yang menggerakkan seseorang berubah ke arah yang lebih baik. Motivasi yang kuat selalu dilandasi adanya tujuan yang ingin dicapai. Sama seperti kalian malam ini hadir kuliah malam ini pasti punya tujuan yang hendak dicapai bukan?”

Di tengah perkuliahan Pak Syahidin bertanya ke beberapa mahasiswa dengan menunjuk langsung. Salah satunya saya.

“Apa motivasi kamu kuliah?,”  tanya beliau dengan suara yang terdengar agak tegas.

“Saya ingin menjadi seorang pendidik Pak.” Jawabku seketika itu juga. Ya memang jawaban itu yang ada dalam pikiranku. Aku ingin menjadi seorang pendidik.

Terlihat raut wajah pak syahidin kaget mendengar jawaban dari saya. Berhenti sejenak. Beliau berkata, “Menjadi guru itu adalah panggilan hati. Beda guru-guru zaman dulu dengan guru-guru saat ini adalah pada moralitasnya. Guru zaman dulu mendidik anak muridnya agar anak muridnya pandai. Agar anak muridnya memahami pelajaran yang disampaikan. Dengan sabar dan kasih sayang guru-guru zaman dulu berjuang dengan tulusnya mendidik denga hati. Tanpa memandang latar belakang muridnya. Dia menyadari bahwa mengajar dan mendidik dengan hati bagian dari tanggung jawab moral seorang guru. Dia hanya ingin anak muridnya berhasil dalam belajar. Berbeda sekali dengan guru zaman sekarang ini. Sebagaian dari mereka masih melihat latar belakang sosial muridnya. Yang cenderung berorientasi pada materialistis. Masih saja ada ucapan-ucapan guru yang membentak, berkata kasar kepada murid yang dari keluarga sederhana (keluarga menengah ke bawah) hanya karena murid tersebut belum mengerti soal matematika atau pelajaran lain.”

Sebagai mahasiswa pendidikan, saya terkejut mendengar penjelasan Pak Syahidin tentang mental sebagian guru-guru zaman ini. Dimana letak keteladanan seorang guru? Yang sudah tidak mau memotivasi dan menyemangati muridnya ayo belajar yang tekun, ayo banyak membaca buku, kurangi waktu bermain. Tapi malahan, menjelekkan murid di depan umum, membedakan-bedakan murid yang satu dengan murid yang lain dengan melihat latar belakang sosial muridnya. Perbuatan tidak mendidik itu menyakiti hati peserta didik, membuatnya minder, percaya dirinya menurun. Kalau saja saya mendengar langsung seorang guru yang membentak-bentak murid, berkata kasar yang menyakiti hati murid, ingin rasanya meluapkan marah saat itu juga. Ingin rasanya berkata pada guru tersebut, “Anak-anak muridmu tidak hanya menginginkan ilmu darimu, tetapi ia juga butuh keteladanmu dalam berucap dan bertingkah laku. Murid-muridmu saat ini akan menjadi penerus dan pewaris negeri ini. Jangan sebarkan mereka virus-virus negatif berupa tingkah dan ucapan burukmu.”

Aku sendiri pernah mendengar seorang pendidik yang ucapannya tidak enak didengar tanpa memperhatikan kondisi sosial murid-muridnya. Saat mendengar kata-kata itu ingin saya berteriak kepadanya, “Ini lembaga pendidikan formal. Buat apa menyinggung status sosial kami para murid yang saat ini sedang belajar. Toh pendidikan itu hak asasi setiap orang yang sudah dilindungi oleh undang-undang negeri ini tanpa memandang kondisi sosial ekonomi para peserta didik.” Jujur kesal sekali saya mendengar ucapan pendidik itu.  sejak itu, saya jadi mengerti bahwa sakit sekali perasaan seorang murid bila seorang pendidik tidak pandai menjaga ucapannya ketika mengajar. Bila tiba saatnya aku menjadi guru, aku akan berusaha menjaga perasaan murid-muridku. Menegur dan mengingatkan dengan bahasa sehalus mungkin. Memberikan teladan dengan cara bersikap dan bertutur kata yang sopan. Menegakkan prinsip-prinsip kejujuran dalam belajar. Karena beberapa tahun yang akan datang aku berharap murid-muridku kelak menjadi pribadi yang jujur dan mengawal tegaknya nilai-nilai kejujuran dimanapun mereka berada.

 

 

Ing Ngarsa Sung Tulada   (Di depan seorang guru menjadi panutan)

Ing madya mangun karso (Di tengah seorang guru menciptakan ide)

Tutwuri Handayani          (Di belakang seorang guru memberi dorongan dan arahan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: