Sepotong Kisah Belajar dan Mengajar

Tahun terakhir di bangku SMA. Kemampuan membaca Al-Qur’an saya cukup berkembang. Saat itu saya mendapat tawaran oleh Pak Muhtarom untuk belajar Al-Qur’an di rumahnya. Beliau adalah tetangga asrama. Belajarnya satu pekan sekali, tiap malam ahad, setelah shalat Maghrib. Pertemuan pertama saya diminta untuk membaca surat An-Naml ayat 1 sampai dengan ayat 10. Dengan rasa percaya diri saya membacanya. Selesai membaca. Menurut saya, saya sudah lumayan lancar membaca ayat tadi, tapi memang ada beberapa kata yang saya terbata-bata membacanya.

Setelah itu Pak Muhtarom bilang, “Imron, bacaanmu barusan sudah lancar, namun kamu belum benar cara membacanya sesuai kaidah ilmu tajwid. Tadi ada beberapa hukum bacaan yang kamu baca tidak pas. Ada bacaan yang perlu ditahan (ghunnah) dua sampai tiga harokat, tapi tadi kamu lewati.  Hari ini bapak mengetahui kemampuan caramu membaca Al-Qur’an. Sambil bapak memperbaiki bacaan kamu di setiap pertemuan, bapak ingin melihat kemajuan bacaan kamu di pertemuan-pertemuan mendatang.  Itulah menurut bapak kalau ingin bisa membaca Al-Qur’an mesti belajar seperti ini. Tadarus namanya. Ada juga yang menyebutnya talaqqi’. Yang satu membaca dan satunya lagi menyimak apabila ada pengucapan dan hukum bacaan yang salah, maka dibenarkan saat itu juga. Dan satu lagi, kalau ingin cepat bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, maka harus banyak berlatih dan berlatih. Punya komitmen dan target misalnya satu hari membaca tiga halaman. Itu sangat membantu. Kalau hanya mengandalkan membaca tiap pertemuan satu pekan sekali, perkembangan membacamu akan lambat.”

“Iya Pak saya akan mencoba untuk banyak berlatih lagi.” Jawabku datar. Hari itu saya dapat pengetahuan yang penting tentang membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Selama ini saya hanya membaca dan membaca tanpa mau tahu hukum bacaannya. Mungkin tahu tapi tidak dipraktekkan dalam membacanya. Hatiku bersyukur dipertemukan oleh Pak Muhtarom dan diberi kesempatan belajar langsung dengan beliau. Mengapa saya ingin belajar membaca Al-Qur’an dengan beliau? Pertama, saya suka cara dan metode mengajarnya. Tidak menuntut banyak teori ini itu. Tapi langsung di aplikasikan ketika membacanya. Kedua,  karena Pak Muhtarom pernah mendapat kesempatan belajar membaca Al-Qur’an dengan seorang guru dari Pakistan (saya lupa namanya) ketika beliau belajar di LIPIA Jakarta.

Sejak saat itu, saya semakin semangat membaca Al-Qur’an dengan motivasi ingin bisa membacanya dengan baik dan benar. Saya membuat target satu hari dua sampai empat lembar membacanya. Sambil membacanya, saya mempraktekkan ilmu tajwid dan cara membacanya yang Pak Muhtarom telah ajarkan. Alhamdulillah, dua sampai tiga bulan kemampuan membaca saya berkembang cukup pesat. Saya menjadi lebih percaya diri dari yang sebelumnya. Sudah tidak takut salah dan grogi kalau diminta untuk membaca Al-Qur’an oleh ustadz di asrama. Bukan hanya jadi semangat membacanya, tetapi saya
juga jadi semangat mengajarkannya kepada adik-adik asrama yang lain. Saya mencoba memahami hadits Nabi yang artinya, “khoirukum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu (sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Lulus SMA. Saya ikut program masa bakti di yayasan selama satu tahun. Saya diberi kepercayaan oleh yayasan Marhamah untuk mengajari ibu-ibu pengajian membaca Al-Qur’an tiap satu pekan sekali. Wah ada rasa bangga juga dalam hati saya menerima amanah itu. Metode mengajar saya sama dengan metode Pak Muhtarom terapkan. Lebih menekankan pada aplikasi daripada teori. Lebih memotivasi kalau ingin cepat bisa membaca dengan baik dan benar, mesti ada kemauan berlatih dan berlatih. Kemauan yang kuat itu yang akhirnya merubah jadi rasa semangat ingin bisa. Yang dirasakan ketika mengajar ibu-ibu adalah saya lebih berhati-hati dalam membetulkan bacaan, harus pelan-pelan dan sabar. Berucap juga dengan bahasa sehalus mungkin dan sesantun mungkin. Saya berusaha menghormati orang yang labih tua dari saya. Kadang ada rasa haru dan semangat mengajar saya tumbuh ketika melihat perjuangan ibu-ibu ingin bisa membaca Al-Qur’an, mereka datang jauh-jauh dengan berjalan kaki, belum lagi rasa lelah yang menyelimuti setelah seharian mereka beraktivitas mengurus rumah tangga, belum lagi ketika hujan datang. Belum lagi, ketika sudah selesai mengajar mengaji, mereka mengucapkan rasa terimakasih sambil mendoakan kebaikan untuk saya. Duh, mendengar doa-doa itu membuatku terharu sekali. Doa-doa itu membuat hatiku meng-aminkan dengan penuh rasa takzim. Membuat rasa lelah ini terobati seketika itu juga. Ya Allah, di tempat itu hamba telah menorehkan sedikit kebaikan, maka terimalah kebaikan kecil itu, amiin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: