Merenungi Usia

“ Tak begitu peduli seberapa buruk masa lalu kita, yang terpenting bagi kita saat ini adalah seberapa tinggi impian kita di masa depan, dan seberapa serius upaya yang kita lakukan di hari ini. Masa lalu telah terjadi, ambil hikmah untuk perbaikan diri. Masa depan belum terjadi, maka citakan yang tinggi, lalu tuliskan agar teringat. Hari inilah hidup kita. Mari jalani sebaik mungkin. “ (Ahmad Rifa’i Rif’an, Penulis The Perfect Muslimah)

Bulan depan bertepatan dengan usiaku yang ke-23 tahun. Sudah hampir mendekati setengah abad usia hidupku. Banyak keinginan yang sudah tercapai dan tidak sedikit cita-cita yang belum saya capai. Yang sejak awal merencanakan A tapi karena satu dan lain hal mengganti menjadi rencana B. Banyak rasa menjejaki usia ini. Kadang sering diri ini membandingkan diri ini dengan diri orang lain yang lebih bahagia yang memiliki keluarga yang utuh satu dengan yang lainnya saling kompak saling mendukung. Ya Tuhan, maafkan hamba belum bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur. Tapi di sisi lain aku berusaha mensyukuri kehidupan yang telah diberikan ini. Aku masih bisa menjalani amanah kehidupan ini. Aku masih bisa bekerja. Mencari nafkah untuk hidupku. Masih bisa menyambung hidup. Di luar sana mungkin masih banyak orang yang mesti bermandi peluh di bawah terik matahari demi mencari uang untuk tetap bertahan hidup.  Aku masih diberi kesempatan kuliah di perguruan tinggi. Menuntut ilmu. Mencari wawasan yang luas. Sejak remaja aku sudah bermimpi untuk belajar di perguruan tinggi. Tuhan telah membukakan kesempatan itu untukku. Aku akan belajar sungguh-sungguh. Berusaha memanfaatkan waktu yang ada.

Untuk masa laluku. Aku ucapkan terimakasih telah menemaniku menapaki tiap-tiap jengkal kehidupan ini. Aku tidak mempersoalkan betapa dirimu kadang menyisakan perih yang sangat mendalam, sedih yang berlarut, sesak, dan akhirnya aku harus bersimpuh meminta kekuatan itu. Aku berusaha tidak menyesali seberapa kelam masa lalu itu dan seberapa berat masa lalu itu. Oh masa lalu, engkau mungkin selesai ketika sudah terlewati, tapi tidak dengan kenangan bersamamu. Kenangan itu tetap ada dan akan selalu ada. Yang kadang ketika saat ini engkau menghampiriku, aku tersenyum kecil mengikhlaskan itu semua telah terjadi. Tersenyum lega, di masa itu aku bisa mengisi waktu dalam dengan berbagai aktivitas. Mengingatmu membuatku rindu masa-masa itu. Masa dimana aku meraih prestasi demi prestasi yang membuatku tersenyum lega. Masa dimana aku pernah hidup dengan orang-orang yang mengasihiku sebegitu tulusnya. Meskipun mereka bukan orang tua kandungku. Ya Tuhan, terimakasih telah memberiku kehidupan sebegitu indahnya dan sebegitu menyenangkan. Berikan aku kekuatan dan kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat baik kepadaku.

Advertisements

2 thoughts on “Merenungi Usia

  1. lisma nopiyanti April 18, 2015 at 7:36 am Reply

    Jadikan kesalahan yang ada di masa lalu sebagai suatu pengalaman mas Imron :))

    Pengalaman yang harus diperbaiki kedepanny #salamowop

    • imron prayogi April 18, 2015 at 11:51 am Reply

      siip lisma. yang lalu biarlah berlalu. jadikan sebagai lecutan untuk memperbaiki diri. kan seoarang muslim yang baik tidak boleh jatuh dalam kesalahan yang sama dua kali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: