Bila Cinta Datang Menyapa

Pernah jatuh cinta? Apa yang dirasakan ketika sedang jatuh cinta? Bagaimana menyikapi bila cinta datang menyapa?

Pertanyaan itu sekedar pertanyaan. Setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda-beda. Namun disini saya berusaha menulis tentang menyikapi cinta yang datang menyapa. Setiap orang yang terlahir ke dunia ini pernah merasakan cinta dan kasih sayang. Bermula dari dari lingkungan keluarga. Fitrah orang tua dimanapun selalu cinta, selalu menyayangi anaknya, ingin memberi rasa aman dan perlindungan pada anak. Cinta orang tua pada anaknya adalah cinta yang tulus. Cinta yang tidak bersyarat. Betapa pun rewelnya si anak, betapa pun menyebalkan si anak, bagi orang tua anak adalah anak. Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Cinta terhadap lawan jenis. Seiring bertambahnya usia, seorang anak akan tumbuh menjadi remaja. Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju orang dewasa. Salah satu tanda pada masa ini ditandai dengan adanya rasa suka terhadap lawan jenis. Laki-laki suka dengan perempuan. Begitu pun sebaliknya. Bagi remaja masa ini adalah masa pencarian jati diri. Masa dimana ingin meniru tokoh yang dikagumi. Meniru gaya bicara dan bersikap orang yang disenangi. Siapa saja. Bisa seorang remaja mengagumi ayahnya karena menurutnya ayah adalah sosok orang yang bertanggung jawab dan memiliki etos kerja yang tinggi. Bisa juga seorang remaja mengagumi kakaknya karena menurutnya kakak adalah orang yang selalu menyayangi denga tulus dan selalu menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita dan mendengar curahan hati adikny. Kagum karena kakak adalah orang yang selalu menyemangati ayo belajar yang tekun, ayo banyak membaca, ayo traveling lagi.

Bila Cinta Datang Menyapa

Wahyu :

Aku tumbuh seperti remaja lainnya. Tubuh yang semakin tinggi.  Ada rasa ingin dikenal dan ingin diperhatikan. Aku sudah mulai memperhatikan penampilan diri. Saat itu dalam hatiku tumbuh rasa kagum dengan Rini, teman satu kelas denganku. Rini adalah orang yang selalu membuat  diriku tersenyum merekah. Tepatnya bukan sekedar kagum tetapi sudah menjadi rasa sayang. Tapi perasaan itu hanya dalam hati. Saat itu aku hanya bisa merasakan tanpa mampu mendefinisikan apa yang sedang  dirasakan. Awalnya aku mengaguminya karena dia adalah seorang perempuan yang memiliki prestasi belajar yang baik dan akhlak yang baik. Entahlah mungkin karena setiap hari bertemu dengannya membuat perasaan itu terus tumbuh. Semakin lama semakin subur. Semakin lama semakin ingin aku mengungkapkan perasaan ini. Apa aku harus mengatakan aku mencintainya?

Farhan :

Tiga malam terakhir, aku melihat Wahyu adikku banyak melamun. Wajahnya juga terlihat sedikit murung. Sepertinya dia sedang ada yang dipikirkan. Atau memang hobinya sudah berubah yang tadinya hobi membaca menjadi hobi melamun?

Jam sembilan malam. Aku mengetuk pintu kamar Wahyu.

“Assalamu’alaikum Wahyu.” Aku mengucap salam sambil mengetuk pintu kamarnya.

“Waalaikumsalam Mas Farhan. Masuk Mas.” Balas Wahyu.

Wahyu mempersilahkan aku duduk dekat meja belajarnya. Tanpa basa basi aku langsung menuju pokok permasalahan.

“Boleh Mas tanya, apa kamu baik-baik aja? Beberapa hari terakhir Mas melihat sikapmu berbeda dari biasanya. Kamu lebih banyak melamun. Wajahmu juga terlihat agak murung. Ada apa Wahyu?” tanyaku dengan bahasa sehalus mungkin.

“Gak ada apa-apa Mas. Benar. Saya baik-baik saja. Mungkin dua hari belakangan ini banyak kegiatan Rohis yang menyita waktu, sehingga aku kurang istirahat.” jawab Wahyu berusaha meyakinkan.

“Dik, Mas mu ini bukan orang lain. Mas sudah mengenalmu bertahun-tahun. Mas tahu sikapmu  saat kamu sedih dan saat kamu senang. Jadi bicaralah bila kamu sedang ada masalah.”

Adikku kini menunduk. Menarik nafas panjang. Dia adalah adik selalu menghargai orang yang sedang berbicara. Matanya sedikit berbinar. Sepertinya dia senang ada orang yang peduli memperhatikan dirinya sejauh ini.

“Mas benar. Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku sedang bingung dan galau. Aku menyukai salah seorang teman yang satu kelas denganku, Rini namanya. Semakin hari seakan hati ini terus mendesakku untuk mengungkapkan perasaan ini. Aku tidak bisa membohongi diri, aku mencintainya Mas. Tapi di sisi lain, aku bingung setelah mengungkapkan perasaan ini apa yang aku lakukan. Aku masih duduk di kelas dua SMA.”

Aku menelan ludah. Diam sejenak. Memikirkan kata yang akan aku ucapkan. Berusaha merangkai kata demi kata yang ada di dalam kepala. Aku berusaha duduk lebih dekat disampingnya.  “Dek, jujur Mas senang kamu sudah mau cerita. Setidaknya Mas tahu apa yang sedang adik Mas hadapi. Mas hanya ingin bilang, setiap orang yang terlahir di dunia ini pernah merasakan kagum, pernah merasakan rasa cinta. Sama seperti kamu saat ini sedang menyukai Rini dan Mas menganggap itu wajar-wajar saja. Tidak salah. Tapi dengarkan Mas, biarkan perasaan itu dihatimu saja untuk saat ini. Tidak perlu kamu ungkapkan sekarang. Berusahalah untuk bersikap yang wajar. Belajarlah untuk tidak menanggapi bisikan-bisikan di hatimu. Anggap Rini sekarang adalah temanmu. Fokus belajar yang tekun. Cari pengalaman berorganisasi sebanyak mungkin. Nanti di di saat kamu sudah siap baik dalam harta dan mental maka segera datang ke rumahnya untuk menikahinya.”

Wahyu :

Malam itu aku benar-benar senang. Lega sekali rasanya ketika selesai aku menceritakan masalahku kepada Mas Farhan. Perkataan Ibu benar, “Orang yang terbuka dan mau berbagi cerita biasanya memiliki mental yang kuat. Tidak bersedih yang berkepanjangan. Tidak merasa galau terus-menerus. Karena orang yang terbuka ketika berbagi cerita (curhat) terjadi interaksi timbal balik antara satu dengan yang lainnya. keduanya saling memahami dan berusaha untuk menyemangati.” Saat ini yang aku lakukan adalah berusahan bersikap sewajar mungkin dengan Rini. Menganggap Rini sebagai teman biasa. Berusaha untuk tidak menanggapi bisikan-bisikan di dalam hati. Dan menyibukkan diri untuk belajar,  berorganisasi, traveling dan aktivitas positif lainnya. Malam itu aku bilang ke Mas Farhan sambil tersenyum lega, “Terimakasih Mas Farhan sudah mau mendengar curhatan saya. Mengena sekali nasehatnya.”

 

 

 

Advertisements

One thought on “Bila Cinta Datang Menyapa

  1. Tahun Baru, Semangat Baru | imron26 January 19, 2016 at 11:55 pm Reply

    […] Bila Cinta Datang Menyapa (Cerpen) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: