Buku Fiksi Yang Menghibur

Buku adalah jendela informasi. Jendela yang ketika orang membaca akan bertambah wawasan. Wawasan apa saja. Bisa berupa pengetahuan, informasi, opini seseorang dalam menyikapi permasalahan, motivasi dan masih banyak yang lain. Saya sendiri sejak hobi membaca buku yang bergenre fiksi baik berupa novel maupun cerita pendek sejak duduk di bangku SMP. Di dalam cerita fiksi itu ada pesan – pesan moral yang disampaikan penulis kepada pembaca. Pesan – pesan moral itulah yang menjadi daya tarik saya hobi membaca cerita fiksi. Ketika membaca cerita fiksi terutama novel, saya seperti terhanyut ikut merasakan seperti apa yang dialami tokoh dalam novel itu. Bila tokoh sedang bahagia, seperti saya ikut merasa bahagia. Bila tokoh sedang sedih saya seperti ikut juga terbawa sedih. Bila membaca tentang deskripsi tempat yang menjadi setting cerita, seperti saya berada di tempat yang menjadi setting cerita. Benar apa yang tertulis dalam buku jurnalistik yang pernah saya baca ‘saya lupa judul dan pengarangnya’ isinya “Yang membedakan karya fiksi dan non fiksi adalah karya non fiksi hanya bersifat informatif.  Berbeda denga karya fiksi, karya fiksi memang cerita yang direkayasa oleh penulisnya. Karya fiksi seperti karya yang mempunyai ‘jiwa’ yang bisa mempengaruhi emosi pembaca.” Pembaca seakan-akan merasakan apa yang dirasakan oleh sang tokoh cerita tersebut. Di dalam karya fiksi ada tokohnya, setting tempatnya, sudut pandang (orang pertama atau orang kedua), dan yang menarik ada konflik dan problem solve dari konfik yang sedang dibangun. Emosi pembaca ikut terbawa dalam cerita.

Benarkah karya fiksi benar-benar hasil imajinasi dan rekaan semata tanpa adanya hubungan dengan kehidupan penulisnya? Menarik sekali pertanyaan ini untuk dijawab. Saya mengutip kalimat Mas Irwan Kelana dalam kata pengantar kumpulan cerpen karya beliau yang berjudul novelet Biarkan Cinta Menemukanmu, “Seorang penulis fiksi kerap ditanya orang, apakah puisi, cerpen, atau novel yang ditulisnya merupakan kisah nyata ataukah betul –betul rekaan? Sulit menjawab pertanyaan seperti itu. Karena pada dasarnya, hampir tidak ada cerita – entah itu puisi, cerpen, ataupun novel – yang betul-betul khayalan penulisnya. Bagaimanapun sebuah puisi, cerita pendek, maupun novel lahir dari pergulatan batin penulisnya maupun interaksinya dengan orang – orang di sekitarnya, orang – orang yang mempunyai keterkaitan dengannya maupun alam lingkungannya. Tapi sejauh mana kadar faktual dalam puisi, cerpen, atau novel itu, biarlah hanya penulisnya yang tahu. Mungkin ia hanya ingin menyimpannya sendiri di sudut hati.”

Buku adalah hasil karya penulis yang dalam pembuatannya melewati proses panjang. Tidak sedikit dari mereka yang rela meluangkan waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan demi menghasilkan karya tulisnya. Dengan membaca buku menambah semangat saya untuk semangat menulis. Menulis apa saja.  Dengan harapan tulisan yang ditulis ada sisipan pesan kebaikan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Teringat pesan Bang Tere Liye dalam akun FB nya yang tertulis, “Tidak ada tulisan yang buruk kecuali buruk isi tulisannya. Mengajak kepada perbuatan yang merusak. Dan tidak ada tulisan yang baik, kecuali isi tulisannya mengandung pesan-pesan kebaikan. Menghibur, menginspirasi untuk berbuat kebaikan.”

Membaca dapat melihat dan membayangkan tempat tertentu, walaupun belum pernah tempat itu secara langsung. Latar merupakan salah satu intrinsik dalam karya fiksi. Latar bisa berupa tempat, ruang, ataupun suasana yang sedang terjadi. Semakin detail penulis mendeskripsikan latar maka membuat pembaca memahami seolah-olah pembaca berada di tempat atau suasana di dalam cerita. Dan ini menjadi nilai plus sendiri dalam karya fiksi. Seperti kalimat dikutip dari novel Home karya Mbak Ifa Avianty halaman 7, “Pagi baru saja datang dan telah bergegas pergi lagi. Ia seperti biasa menyisakan kesibukan di jenak – jenak usia para penghuni bumi. Bergegas menuju kesibukan mengejar waktu dalam ruang, bagi yang masih aktif dan produktif. Sementara bagi kami yang telah berada di senja usia, pagi adalah ruang dan waktu di mana kami harus banyak mengucap syukur ketika Tuhan masih mengizinkan kami menatap dunia lagi. Saya juga demikian. Suami saya juga, meski ia melakukannya dari atas kursi rodanya. Pagi ini, Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk menyelesaikan lagi amanah-amanah yang masih ada ditangan kami. Saya tersenyum menyudahi kemesraan saya dengan sang pagi.” Latarnya pagi hari. Suasana yang dibangun adalah ungkapan rasa syukur seorang Ibu yang berusia lanjut atas nikmat diberikan usia yang panjang.

Bagi saya membaca buku adalah kegiatan yang banyak manfaatnya. Di sisa –sisa waktu luang ketika libur kerja, saya berusaha menyempatkan untuk membaca buku. Selain menambah wawasan, membaca buku juga dapat menambah kosa kata bahasa indonesia. Penggunaan kata-kata yang bervariasi banyak saya temukan. Membaca buku membuat seseorang mengetahui banyak hal tanpa dibatasi tempat. Dengan membaca saya bisa membayangkan suasana pagi hari di negeri kincir angin yang selalu ramai orang-orang bersepeda ke kantor atau ke kampus. Belanda negeri sejuta sepeda.  Bersepeda sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana. Dimana-mana akan terlihat parkir sepeda yang terlihat ramai.

Jakarta, 28 Maret 2015

Advertisements

One thought on “Buku Fiksi Yang Menghibur

  1. Tahun Baru, Semangat Baru | imron26 January 19, 2016 at 11:55 pm Reply

    […] Buku Fiksi yang Menghibur […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: