Guruku, Pembimbingku

Malam ini saya menuliskan tentang salah satu guru yang menjadi inspirasiku. Guru yang selalu memberikan teladan berupa akhlak yang baik dalam kehidupan kesehariannya. Bapak Amroni namanya. Saya mengenalnya kali pertama di waktu saya duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Beliau tinggal dekat dari asrama dimana saya berada. Bisa dibilang beliau tetangga asrama. Beliau adalah seorang guru Bahasa Indonesia SMP Islam Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Sama seperti yang lain, saya juga awalnya hanya mengenalnya sekilas. Mengenal beliau adalah jamaah baru di mushallah Marhamah. Mushallah marhamah tidak hanya digunakan untuk ibadah oleh santri-santri yayasan marhamah. Tetapi sebagai tempat ibadah masyarakat disekitarnya juga. Namun seiring berjalannya waktu saya dan Pak Amroni semakin dekat. Walaupun kami para santri baru mengenalnya tapi dengan sikapnya yang rendah hati, ramah, mudah berbaur dengan orang-orang sekitarnya membuat beliau disegani dan dihormati oleh para kami. Belum lagi ketika beliau mendapat kesempatan untuk memberikan motivasi kepada kami, materi yang dibawakannya selalu membuat kami berdecak kagum sekaligus hanyut dengan apa yang beliau sampaikan. Cara penyampaiannya yang menarik perhatian pendengar. Dengan bahasa yang mudah dipahami, rangkaian kata demi kata yang diucapkan dengan jelas, ekspresi wajahnya yang meyakinkan, suara lantangnya yang terdengar jelas menjadi daya tarik kami untuk mendengarkan apa yang beliau sampaikan.

Belum tahu apa yang membuat saya dan Pak Amroni semakin dekat. Namun terkadang ketika ketidaktahuan saya atau ketidak mengertian saya terhadap pelajaran di sekolah terutama bahasa indonesia, membuat saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya tentang bahasan yang belum saya pahami. Seringnya waktu saya bertanya kepadanya setelah shalat isya. Sebelum beliau beranjak pulang ke rumah, saya berusaha meminta kesempatan untuk bertanya. Dan beliau  adalah orang yang selalu siap untuk memberi penjelasan. Selalu tersenyum hangat bila berjumpa dengan siapapun. Jika tidak ada acara atau agenda beliau segera menjawab dan menjelaskan bahasan yang sedang dipelajari.  Pernah suatu hari saya bertanya tentang format penulisan daftar pustaka.

“Pak, susunan penulisan daftar pustaka yang benar seperti apa ya?”

“Untuk memudahkan menghafal penulisan daftar pustaka disingkat menjadi natabukobitnabit.”

“Maaf Pak, Maksudnya apa ya pak? Saya baru dengar kalimat yang barusan bapak ucapkan.” Tanya saya polos.

“Natabukobitnabit adalah singkatan dari NAma Penulis, TAhun Terbit, judul BUku, KOta terBIT, NAma penerBIT.”

“Oh itu kepanjangannya ya. Iya Pak saya sudah paham natabukobitnabit nya. Terimakasih pak penjelasannya.”

Itu diskusi kecil yang kesekian kali yang selalu berakhir dengan bertambahnya wawasan saya. Disitu kadang saya merasa lega. Karena ketidaktahuan saya berganti menjadi paham. Tidak hanya tentang pelajaran, saya juga banyak bertanya tentang administrasi surat – menyurat OSIS. Biasanya saya menulis surat resmi dengan bahasa saya sendiri kemudian minta tolong Pak Amroni untuk memeriksa sekaligus memberikan koreksi pada bagian yang perlu diperbaiki. Apa beliau tidak keberatan dan merasa terganggu bila saya sering meminta waktunya untuk bertanya banyak hal?  Saya tidak tahu. Yang saya tahu beliau ketika dimintai tolong selalu tersenyum ramah, membuka percakapan dengan bahasa sederhana yang membuat semakin akrab, tidak ada rasa canggung antara guru dan murid. Itu saja sudah membuat saya menilai beliau adalah orang yang mau membantu dengan tulus. Tidak jarang saya bercerita banyak hal baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun cerita tentang diri saya sendiri.

Selain sebagai tempat bertanya, tempat bercerita, beliau adalah seorang muslim yang shaleh. Beliau selalu berusaha shalat lima waktu di mushallah. Shalat sunnah rawatibnya selalu dijaga. Bacaan al-qur’annya yang tartil. Dzikir pagi dan petang selalu beliau bacakan. Selalu berbicara yang baik-baik. Beliau mengingatkan saya bahwa ibadah itu selain ikhlas karena Allah juga harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Maka untuk memahami ibadah – ibadah yang sesuai tuntutan Rasulullah harus dengan ilmu. Salah satunya bisa dengan menghadiri kajian mingguan di masjid, membaca kitab-kitab para ulama. Mengenalnya membuat saya semakin memahami tentang Islam yang lebih luas. tentang sifat shalat Nabi saw, tentang dzikir pagi dan petang yang sesuai hadits, tentang fiqih ibadah. Sejak mengenal beliau membuat saya semangat belajar dan belajar lagi memahami Islam.

Mengingat kembali masa lalu yang saya lalui bersama Pak Amroni, membuat hati saya rindu. Rindu dengan suasana asrama yang selalu ramai. Sepuluh tahun menetap di asrama bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun itu adalah masa dimana saya tumbuh dan berkembang ditemani oleh orang-orang yang mau menyayangiku dan mengingatkanku kepada kebaikan, mengingatkan maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Surat : Al-Insyirah : 7). Menyerukan  diri sendiri mari berubah ke arah yang lebih baik. Karena orang yang datang ke tempat ini adalah orang-orang yang ingin perubahan. Saat itu hatiku berkata, “Imron, Jangan membuat mereka kecewa, karena kemalasan dan keegoisan dirimu. Mereka sudah amat terlalu menyayangimu, mengasuhmu dengan kelembutan, dan mendampingimu di setiap jengkal kehidupanmmu. Jadi ayolah giat belajar, tingkatkan ibadah, dan berdoa untuk mereka, agar mereka kelak bangga setidaknya dalam fase-fase kehidupan mereka telah menanamkan benih-benih kebaikan, mendidik anak-anak agar kelak menjadi orang-orang yang beriman, berakhlak, berilmu pengetahuan dan bermanfaat dengan sesamanya.” Maka Ketika mengingat kisah Pak Amroni, maka beberapa kisah yang berkaitan dengan asrama menyeruak kembali. Kenangan itu datang dengan sendirinya. Kenangan yanng terkadang menyisakan banyak perasaan. Setiap episode kehidupan yang telah terlewati ada kenangannya sendiri. Kenangan itu menyadarkan bahwa beberapa tahun lalu saya pernah hidup bersama dengan teman-teman yang berasal dari beberapa daerah dalam satu yayasan, bahwa hidup saya pernah dibantu oleh banyak orang, bahwa ada saat-saat dimana kami bersama, belajar bersama, berangkat sekolah bersama, olahraga bersama, mengaji bersama dan ada pula saat-saat yang memang kami harus berpisah. Mengembangkan diri masing-masing, meraih cita-cita yang diimpikan setiap orang.

 

 

Jakarta, 18 Maret 2015

Advertisements

Tagged:

3 thoughts on “Guruku, Pembimbingku

  1. ruruna99 March 18, 2015 at 10:35 am Reply

    Kalo baca pengalaman tentang guru yang baik, rasanya pengin bersyukur. Alhamdulillah masih banyak guru yang baik di Indonesia, yang mengajar dengan tulus. ^^ Pak Amroni juga pasti seneng deh masih ada yang nginget beliau. *pernah merasakan jadi guru dan seneng kalo ada murid yang masih inget sama kita*

    Tentang penulisan, masih banyak salah di penulisan “di”, nih Imron. Hehe… Yang mana yang dipisah, mana yang digabung hayo?

    Terus, kalimatnya banyak yang terlalu panjang. Bahasa Indonesia tuh kalo kalimatnya terlalu panjang suka ngebingungin. Jadi kalo ada kalimat yang sekiranya panjang, saranku coba dibagi jadi dua kalimat aja.

    Semangat, Imron!

    PS. Itu tentang “natabukobitnabit”-nya sangat membantu buat ngapal. (^o^)b <-sering ditanya adek tapi nggak apal-apal cara nulisnya. Hahaha..

    • tarikhimron March 18, 2015 at 12:20 pm Reply

      terimakasih mbak ruru. wah seneng deh ada yg komentar seperti ini. jadi semangat nulis lagi.
      ketika menulis tentang guru, jadi ingat ayat yang artinya “apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yangserupa).” (An-Nisa’: 86)
      iya mbak ruru, setelah dilihat kembali memang banyak kata di. yang benar seperti apa ya mbak? harus buka buku bahasa indonesia lagi nih atau search di google.
      Siip mbak ruru utk kalimat yang kepanjangan, next time saya berlatih lagi. mungkin kalo kalimat terlalu panjang, jadinya bukan kalimat efektif deh.
      terimakasih mbak ruru

  2. Tahun Baru, Semangat Baru | imron26 January 19, 2016 at 11:55 pm Reply

    […] Guruku, Pembimbingku […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: