Belajar dan Berproses

Belajar, Berkembang, dan Berproses

Pekan pertama di semester dua. Banyak sekali pesan yang saya dapat di pekan ini. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin membuat saya sadar bahwa belajar adalah sebuah proses yang harus dilewati dengan ketekunan.  Proses yang menuntut kesungguhan. Proses yang menuntut kerja keras. Perlu kemauan kuat untuk meraih ilmu yang ingin didapatkan.

“Pendidikan siswa SMA berbeda dengan kalian yang sekarang sudah mahasiswa. Kalian dituntut lebih sadar untuk serius belajar. Keberhasilan belajar di kelas ini ditentukan oleh setiap anggota di kelas. Ada mahasiswa yang mau mengikuti setiap prosesnya dengan senang hati, dan dia akan meraih apa yang menjadi tujuannya belajar di perguruan tinggi ini. Ada juga mahasiswa yang tidak peduli dengan proses belajar, tidak mau mengikuti alur materi apa yang sedang dibahas di kelas, tidak mau menghargai dosen yang sedang mengajar di depan kelas. Dia belajar semuanya sendiri. Tidak peduli sikap dia mengganggu proses belajar anggota kelas yang lain. Jika dibiarkan seperti  ini terus menerus, orang seperti ini akan menjadi manusia yang egois.”

Kalimat Pak Nur Shodik, dosen mata kuliah filsafat ilmu membuat saya termenung. Benar sekali, memang dalam sebuah proses belajar di dalam kelas, setiap anggota kelas punya andil untuk mensukseskan jalannya roda proses pembelajaran. Dimulai dari diri sendiri. Ada kemauan untuk selalu hadir kuliah, kemauan untuk menghargai orang yang sedang berbicara di depan kelas (menjadi pendengar yang baik), kemauan untuk mengerjakan setiap tugas yang diberikan tepat pada waktunya. Mungkin sekarang belum terasa apa-apa karena baru pekan pertama kuliah. Belum ada tugas ini itu. Tapi minimal saat ini saya punya kemauan dan ‘azzam untuk berproses dalam belajar dan mencintai setiap prosesnya. Mengurangi kemalasan, mengurangi banyak mengeluh, melakukan yang bisa saya lakukan.

Belajar adalah sebuah proses

“Tidak ada istilah gampang atau sulit dalam belajar. Yang ada hanyalah proses selama belajar.” Kalimat yang diucapkan oleh Mas Faris,  senior saya di Pelajar Islam Indonesia (PII) kembali terngiang dalam pikiran saya. Sudah lama sekali kalimat itu saya dengar. Awalnya saya belum mengerti maksud kalimat itu. Seiring berjalannya waktu saya akhirnya mengerti dan sadar bahwa dalam belajar tidak mengenal kata gampang atau sulit. Maksudnya begini sesulit apapun pelajaran yang sedang kita pelajari, bila kita memiliki kemauan dan sungguh-sungguh pasti akan bisa dipahami pelajaran itu. Banyak membaca buku, banyak berlatih mengerjakan soal terutama ilmu eksak, banyak bertanya kepada dosen atau teman yang sudah paham niscaya kita mampu memahami materi kuliah yang kta anggap sulit. Itulah yang dinamakan berproses. Disana ada rasa lelah, jenuh, pusing, tertekan karena banyak tugas kuliah  itulah semuaa bagian dari proses belajar. Bukankah niat awal belajar di tempat ini adalah untuk merubah diri? Merubah dari ketidaktahuan menjadi pribadi yang berwawasan, pribadi yang berilmu. Mau kuliah berarti mau merubah diri dan berbenah diri. Sekarang saya  tanamkan dalam diri saya adalah kemauan kuat untuk belajar dan mencintai setiap proses belajar yang dilalui. Mengatur waktu yang belajar, mau membaca kembali, mencatat hal-hal yang dirasa belum dimengerti kemudian bertanya kepada yang sudah paham, membeli buku-buku referensi yang menunjang belajar. Ini yang disebut motivasi intrinsik, motivasi yang bersumber dari dalam diri sendiri. Dan motivasi ini yang pertama kali mesti tertanam dalam diri setiap penuntut ilmu. Kalau dalam diri saja tidak ada kemauan kuat untuk belajar, bagaimana nasehat orang lain akan berpengaruh pada diri.

“Bertemanlah dengan teman-teman yang prestatif. Karena sedikit banyak teman sangat berpengaruh tehadap semangat belajar kita.” Kalimat itu saya dengar di waktu saya duduk di bangku SMA dari Bapak Amroni, guru SMP Islam Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Berarti pilih-pilih teman dong? memilih teman yang rajin dan menjauhi teman yang malas? Saya tidak memahami seperti itu. Yang saya pahami jika diri saya berteman dengan orang-orang yang punya jiwa semangat belajar yang tinggi maka saya juga akan terlecut semangat belajarnya. lagian saya juga tidak akan menjauhi orang yang belum berpestasi atau orang yang belum memiliki kesadaran pentingnya kesungguhan dalam belajar. Bertemanlah dengan teman yang prestatif disini adalah teman yang ingin dijadikan teman dekat. Teman yang prestatif membuat lingkungan belajar yang kondusif. teman yang menasihati dikala semangat belajar menurun dan ketika diri kita mendapatkan prestasi yang baik, ada teman yang mengingatkan jangan berlebihan, jangan tinggi hati. Jangan mau terpengaruhi oleh lingkungan yang malas belajar. Benar sekali dengan saya kenal dekat dengan Pak Amroni, Mas Faris, Kak Ridhwan, Kak Zaki, mereka semua adalah seorang guru, maka waktu sejak SMA saya mempunyai cita-cita aku ingin menjadi seorang guru. Semakin dekatnya dengan mereka, baik ketika waktu saya silaturahmi ke rumahnya, bertanya meminta penjalasan dari pelajaran yang belum saya mengerti, komunikasi via SMS dan telepon, itu semua berdampak pada cara aku bersikap dan cara berbicara. Bahkan pernah seorang teman yang bilang kok cara dan gaya penyampaian materi Imron mirip dengan kak ridhwan (senior saya di PII) ya? Saya jawab masa iya. Ya ketika saya menyampaikan materi alami aja. Tidak ada niatan ingin ikut cara mengajar Pak A, Pak B dan seterusnya. Kalaupun memang ada kemiripan mungkin karena diri saya dekat dan sering berinteraksi dengan orang tersebut. Baik ruang interaksi dalam ta’lim, dalam ruang kelas, maupun interaksi sehari-hari.

Hidup sekali,belajar sepanjang hayat

Jakarta, 10 Maret 2015

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Belajar dan Berproses

  1. Atikah AZ April 16, 2015 at 2:07 pm Reply

    Berlatih ilmu eksak maksudnya buat melatih cara berfikir gitu ya mas imron?

    • tarikhimron April 17, 2015 at 4:21 pm Reply

      bukan tika. ilmu eksak (ilmu pasti) adalah ilmu hitung seperti matematika, fisika, kimia, dan beberapa yang lain. mempelajari ilmu eksak berbeda dengan ilmu sosial. ilmu eksak untuk memahaminya mesti banyak berlatih dengan rajin mengerjakan soal. tidak cukup hanya hafal rumus, lalu ngerti seketika. berbeda dengan ilmu sosial, ilmu sosial menuntut untuk membaca, memahami sesuai nalar logika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: