Kiat Meraih Sukses Studi

Kiat-kiat meraih sukses belajar

Belajar adalah proses perubahan dari yang belum tahu menjadi tahu, dari yang belum bisa menjadi bisa, belum paham menjadi paham dan yang terpenting belajar itu memberikan pengaruh pada mental dan karakter setiap orang. Denga Maha Kebijaksanaan-Nya, Allah memberikan tiap-tiap  manusia akal pikiran dan hati. Artinya tiap manusia wajib untuk belajar. Dengan akalnya, manusia bisa berpikir dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dan dengan hati manusia dapat memilah dan memilih ilmu apa yang boleh dipelajari dan ilmu apa yang dilarang untuk dipelajari oleh agama Islam. Dengan demikian tidak ada alasan bagi umat manusia untuk tidak belajar.

Islam adalah agama yang sangat memprioritaskan ilmu sebelum beramal. Apapun amal perbuatan tiap Muslim itu harus dilandaskan dengan ilmu, terutama amal ibadah mahdhah. Saking pentingnya ilmu pengetahuan dalam agama Islam Allah berfirman : “Dan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan berilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S:Al-Mujadilah :11). Rasulullah Saw bersabda: “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi tiap muslim laki-laki-dan muslim perempuan”. Itulah beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw yang sangat menganjurkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu.

Ada beberapa kiat untuk meraih sukses dalam belajar diantaranya :

Pertama, Belajar dengan sungguh-sungguh.

Belajar dengan sungguh-sungguh disini berarti menanamkan komitmen diri dan motivasi diri  untuk serius dan fokus dengan apa yang sedang dipelajari.secara garis kecil ilmu itu bisa diperoleh dengan tiga hal yakni, dengan membaca buku, dengan bertanya, dan  dengan mendengarkan. Salah satu cara efektif dalam belajar adalah dengan membuat jam belajar. Misalnya, durasi belajar mata sekolah/kuliah minimal 90 menit tiap hari dilakukan pada malam hari. Dengan  adanya jadwal secara tertulis itu dapat mempengaruhi semangat kita dalam belajar dan lebih terarah dalam mengatur waktu untuk hal-hal yang baik. “Hidupnya ilmu adalah dengan mengulang-ulang dan mengamalkan ilmu tersebut”

Kedua, Jangan terpngaruh oleh lingkungan yang malas belajar.

Hal ini penting terhadap keberhasilan dalam belajar. Teman dapat memberikan pengaruh besar terhadap kepribadian kita. Apabila teman di sekitar kita malas belajar, secara tidak langsung memberikan efek terhadap prilaku kita. Terutama semangat belajar kita menurun karena tertular rasa malas dari teman-teman di sekitar. Bukan tidak boleh kita bergaul dengan teman seusia kita, tetapi yang perlu diperhatikan adalah penempatannya. Artinya, kapan kita harus bermain dan bercanda dengan teman kita, kapan kita harus belajar mata kuliah/sekolah dan lain-lain.disitulah pentingnya kita punya agenda harian yang akan memperjelas langkah-langkah apa yang harus kita kerjakan dari hari ke hari yang lain. Dan yang tidak kalah penting juga, kita harus selektif dalam memilih teman, terutama teman yang akan dijadikan teman dekat kita. Carilah teman yang punya semangat prestatif yang tinggi.

Ketiga, Jangan bermaksi’at kepada Allah.hal ini sangat penting terhadap proses prestasi yang akan kita ukir. Rasulullah Saw bersabda : “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”. Dalam hidup ini kita punya hak dan kita harus memelihara hak-hak tersebut dengan baik hingga akhir hayat kita. Hak tersebut diantaranya, hak diri kita sebagai seorang muslim yang harus mengabdikan hidup kita kepada Allah, Robb semesta alam. Peliharalah hak Allah terhadap diri kita dengan cara mematuhi perintah-Nya dan berusaha menjauhi larangan-Nya. Jagalah hubungan yang baik kepada Allah dan jagalah hubungan baik dengan manusia.diantara perintah-Nya adalah menjaga dan mendirikan sholat fardhu lima waktu sehari semalam. Kepada kaum muda jangan  mendekati hal-hal yang mengarah pada perzinahan. Jagalah pandanganmu kepada wanita yang bukan mahrammu. Itu sebagai salah satu cara menjaga kebersihan hati dari noda-noda maksi’at.

Ada sebuah kisah yang menarik dalam hal ini. Pada suatu hari Imam Syafi’I Rahimahullah berjalan di suatu daerah. Di tengah perjalanannya ia bertemu dengan wanita asing (wanita bukan mahramnya) dan secara tidak sengaja ia melihat wanita tersebut. Ia segera memalingkan wajahnya dari wanita tersebut dan segera memohon ampun kepada Allah atas dosa yang diperbuatnya tadi. Ketika ia bermuroja’ah[1], ia lupa dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang sudah dihafalnya. Kemudian ia memutuskan untuk menceritakan masalah tersebut kepada gurunya, Imam Waqi’ sambil berkata:”Wahai guru, mengapa banyak hafalan Qur’anku yang aku lupa ketika aku muroja’ah, padahal aku yelah menghafalnya. Imam Waqi’ menjawab : “Ilmu itu cahaya Allah, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang suka bermaksi’at kepadanya”. Akhirnya Imam Syafi’i mengakui perbuatan maksi’at yang ia lakukan tadi kepada gurunya dan ia berjanji berusaha memelihara diri dari bisikan-bisikan syetan yang terkutuk yang tak pernah lelah dan lalai dalam menggoda Umat manusia dari jalan Allah.

Keempat, budayakan mendirikan sholat malam (Qiyamullail). Sungguh luar biasa Allah mengatur keseimbangan alam semesta ini. Allah menciptakan siang agar manusia mencari karunia-Nya dan Allah menciptakan malam sebagai waktu istirahat hamba-Nya.di sepertiga malam adalah waktu yang tepat untuk mengadukan keluh kesah kita, mengadukan suka dan duka hidup ini kepada Yang Maha Pemurah. Memohon kepada Allah  agar diberikan kekuatan dalam melakukan ketaatan kepada-Nya. Sholat tahajud adalah jalannya. Meminta dengan rasa hamba agar diberikan kemudahan dalam belajar, kemudahan dalam segala urusan hidup ini. Rasakan kedekatan kita kepada Robb alam ini. Semoga langkah hidup kita selalu dalam bimbingan Allah.

Kelima, bangun budaya membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan membacanya bernilai ibadah. Al-Qur’an apabila dibaca menjadi penawar hati kita yang sedang kusut dan gelisah.

Seseorang yang sedang gelisah hatinya pernah meminta nasihat kepada sahabat Abdullah biin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, sambil berkata :” wahai Abdullah bin Mas’ud, berikanlah aku nasihat agar hatiku ini tidak selalu gundah gelisah. Abdullah bin Mas’ud berkata: “obatilah hatimu itu dengan tiga hal yaitu,

Pertama, engkau datangi majlis ilmu, engkau membaca atau engkau mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh rasa khusyu’.kedua, engkau menyendiri untuk sholat malam, engkau bermunajat dan memohon kepada Allah agar diberikan hati yang baru. Karena hati yang sedang engkau miliki ini bukan  hatimu lagi. Kemudian orang itu pulang langsung pulang dan mengambil berwudhu dengan baik kemudian membaca Al-Qur’an dengan penuh rasa khusyu’.  Maka seketika hilanglah rasa kusut, rasa gelisah yang pernah dirasakannya.


[1] 1. Mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: