Aku dan Perjalananku

AKU dan PERJALANANKU

Imron Prayogi

Tenik Komputer dan Jaringan

Bahagia. Itulah perasaan dua orang yang kemudian hari aku sebut mama dan papa.  Mereka merasa senang sekali atas kelahiranku. Mereka memberiku nama yang baik. Imron Prayogi, itulah namaku. Nama yang apabila disebut oleh orang lain, ku anggap sebagai do’a agar dikemudian hari aku menjadi orang sholeh. Aku lahir di Jakarta pada tanggal 26 Mei 1992. Aku adalah anak ke-2 dari 6 bersaudara. Papa dan mama. Dialah dua orang yang sangat berjasa atas kehidupanku hingga kini. Mereka dalah orang yang pertama kali mengajarkan proses sosialisasi kehidupan kepadaku. Keikhlasannya dalam merawat aku, mendidik aku, mengajariku dengan penuh kelembutan membuat diriku merasa selalu ingin dekat dengan mereka. Selalu ingin melihat senyum tulus papa dan mama. Semoga Yang Maha Pemurah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada dua orang papa dan mamaku hingga akhir hayatnya.

MI Darussalam. Itulah nama sekolah dimana aku menginjakkan kaki pertama kali di dunia pendidikan formal. Sejak kecil aku sudah belajar hidup prihatin. Aku hidup di tengah-tengah keluarga yang  pas-pasan. Tetapi aku tidak patah semangat dengan kondisi tersebut. Alhamdulillah aku dapat bersekolah seperti anak-anak pada umumnya dan aku bisa bermain bermain, bercanda, dan tertawa dengan teman-temanku. Hari pertama masuk sekolah, aku diantar olah mamaku. Pada saat itu aku mengetahui dimana letak kelasku, kantin sekolah, dan mushollah di lingkunagn sekolah tersebut. Masa kecilku adalah masa bermain. Masa yang labil, belum mengetahui esensi dari kehidupan yang sebenarnya. Menjalani hari-hari itu serasa suasana yang damai, tenang, penuh dengan keceriaan. Bermain asyik dengan teman-temanku, tertawa dengan wajah yang riang, menyikapi hidup dengan pikiran yang polos. Itulah yang aku rasakan dan aku nikmati di masa kecilku.

Agamis. Itulah kehidupan keluargaku. Sejak kecil aku sudah dididik oleh papaku untuk sholat Maghrib dan sholat Isya’ berjama’ah di Mushollah dekat rumah. Biasanya aku berangkat ke Mushollah bersama Papa. Walaupun demikian, aku juga pernah meninggalkan kebiasaan untuk sholat. Terutama ketika papa sedang tidak ada di rumah. Yah, namanya juga masih anak-anak. Bagiku hal itu wajar-wajar saja. Papaku jugalah orang yang pertama kali mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Waktu untuk belajar membaca Al-Qur’an itu ba’da maghrib dirumahku. Saat itu aku melihat kesungguhan papa dan mamaku dalm mendidik aku agar aku bisa menjadi pribadi yang berakhlak baik di kemudian hari.  Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan aku kehidupan, sehingga aku bisa hidup dengan harmonis dengan keluargaku dan dapat berteman dengan baik dengan teman-temanku di sekolah maupun di rumah. Seiring dengan berjalannya waktu, keluargaku pindah ke rumah kakekku di Matraman, Jakarta. Aku pun pindah sekolah ke Jakarta. Dikarenakan keadaan ekonomi keluargaku saat itu tidak mencukupi untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan izin-Nya aku dapat meneruskan pendidikan di Sekolah Dasar Palmeriam 02. Saat itu aku duduk di kelas 4 SD.

Yayasan Panti Asuhan Marhamah Bekasi. Itulah nama tempat pertama kali aku mengenal kehidupan di  panti asuhan. Tahun 2002, keluargaku menitipkan aku dan dua kakak adikku untuk tinggal di yayasan tersebut. Kembali aku dan dua orang kakak dan adikku pindah sekolah dari Jakarta ke Bekasi, Jawa Barat. Saat ini aku baru menyadari dan bangga akan kebijakan papa dan mamaku. Sungguh mereka ingin aku dan dua orang kakak dan adikku tidak putus sekolah karena faktor ekonomi. Mereka ingin kami menjadi orang sukses di kemudian hari. Sebuah niat yang tulus yang muncul dari hati nurani papa dan mamaku. Aku akui, berat bagiku untuk berpisah dengan papa dan mama. Detik-detik perpisahan dimulai. Hatiku gerimis, sedih, berat hatiku untuk melepaskan kepergian mamaku. Begitupun dengan perasaan kakak dan adikku. Mereka pun merasakan seperti apa yang aku rasakan.  Dan itulah kehidupan …

Kehidupan di panti asuhan pun dimulai. Di tempat ini aku berusaha menata hati dan meluruskan niat untuk belajar sungguh-sungguh. Aku tidak ingin mengecawakan Bapak Ibu pengurus panti. Beberapa hari di yayasan, aku sudah mengenal baik beberapa santri, Bapak Ibu pengurus yayasan, dan lingkungan sekitar. Tahun 2002 aku sekolah di Sekolah Dasar Jaka Mulya IV. Saat itu aku duduk di kelas 4 semester 2. Menjalani hari-hari di panti sangat menyenangkan. Bisa mengenal banyak santri dari berbagai daerah. Ada yang dari Bekasi, Maluku, Cianjur, Bogor, Banyumas dan lain-lain. Bisa mengenal berbagai bahasa dari berbagai daerah. Ada sanri yang berbahasa Sunda, berbahasa Maluku, dan bahasa Jawa. Tahun 2004 aku berhasil menyelesaikan pandidikan di Sekolah Dasar.

Hari itu hari Senin. Hari yang menurut sebagian orang adalah hari awal untuk beraktivitas yang produktif. Begitupun dengan aku. Aku mulai sekolah di MTs. Al-Mu’awanah Bekasi. Seperti kebanyakan pelajar, hari pertama sekolah adalah hari yang membuat mereka tampil agak berbeda dalam bersikap dan berpenampilan. Aku pun mengalami apa yang dialami oleh sebagian dari mereka. Rasa malu, rasa segan, tidak berani tegur sapa itu muncul dengan sendirinya tanpa aku sadari di hari pertama sekolah di Madrasah Tsanawiyah.

Tumbuh dan berkembang. Itulah yang aku alami ketika aku duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Terutama, pertama kalinya aku menjadi ketua osis, seorang pemimpin. Kaget, haru, bahagia, dan senang. Perasaan itu aku alami ketika hari penghitungan suara pemilihan ketua OSIS. Kegiatannya bernama Musyawarah Perwakilan Kelas (MPK). Dimana lebih dari 1/3 siswa dan siswi MTs. Al-Mu’awanah memilih aku untuk mengemban amanah menjadi ketua osis. Kaget, karena memang hanya diriku kandidat ketua osis yang bukan berlatar belakang dari Pengurus OSIS sebelumnya. Dalam artian, waktu aku sedang duduk di kelas VII, aku belum pernah mengecap menjadi pengurus OSIS. Selain diriku, tiga orang kandidat ketua osis lainnya pernah merasakan menjadi pengurus osis sejak  duduk di kelas VII. Bahagia, karena dengan terpilihnya aku menjadi ketua osis, aku bisa dikenal banyak teman-teman di sekolah, dikenal adik-adik kelasku, dan juga dikenal oleh Bapak Kepala Sekolah dan para guru. Bisa berbakti untuk sekolah, bisa berkreasi sebisa mungkin, dan yang terpenting diriku bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan bisa mengembangkan potensi yang ada pada diriku. Bisa lebih percaya diri untuk tampil di muka umum untuk menyampaikan gagasan, jadi bisa mengenal dan memahami karakter pengurus yang lain yang berbeda-beda latar belakang, bisa mengenal lebih dekat dengan warga sekolah. Itulah beberapa hikmah yang aku dapat dari perjalanan roda organisasi yang bernama osis.

Pak Sasmita. Itulah nama Bapak Pembina OSIS MTs. AL-Mu’awanah. Dialah orang yang membimbing sekaligus memberi motivasiku dan teman-teman pengurus yang lain untuk menjaga semangat dalam menjalankan amanah organisasi ini. Aku sendiri sudah menganggap Pak Sasmita sebagai teman curhat tentang organisasi sekaligus berbagi keluh kesah yang aku rasakan dalam perjalanan organisasi. Tiap ingin mengadakan suatu kegiatan, kami selalu konsultasikan dengannya. Juga masalah yang terjadi dalam tubuh kepengurusan aku juga bicarakan dengan pak Sasmita. Hingga kini, bila bertemu dengannya aku bertegur sapa seperti orang yang sudah akrab. Aku menyelesikan pendidikan di MTs. Al-Mu’awanah pada tahun 2007.

Lebih terarah dalam menjalani hidup. Itulah perasaan yang aku dan teman-teman di yayasan Marhamah alami ketika datangnya dua orang pembimbing yang kemudian akan berbagi ilmu agama Islam dengan kami. Kak Faqih dan Kak Fahmi. Itulah nama yang biasa disebut santri-santri untuk memanggil keduanya. Mereka berdua adalah alumni Pesantren Al-Islam Surakarta, Jawa Tengah. Mereka tiba di Yayasan Marhamah pada tahun 2007. Usianya keduanya terbilang masih sangat muda sekitar 19-22 tahun. Namun Imu tentang Dinn (agama Islam) yang dimilikinya dan kepribadian keduanya mencerminkan hamba Allah yang shalih lagi berkarakter. Setelah berjalan beberapa hari, kami mendapatkan ilmu yang baru dari Kak Faqih dan Kak Fahmi tentang agama Islam. Tentang bagaimana Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghargai waktu dan menjaga keindahan diri dengan akhlak yang baik. Ketulusan keduanya dalam mendidik dan membimbing para santri, sopan santun dan ramah keduanya dalam bertutur kata, konsistennya dalam memberikan keteladanan kepada santri-santri, membuat para santri menghargai dan menghormati keduanya dan menaruh rasa segan kepada kak Faqih dan Kak Fahmi. Waktu itu, hati kecilku berkata, aku ingin memiliki akhlak yang indah seperti yang dimiliki oleh mereka berdua. Aku iri dengan mereka. Iri terhadap sikap komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutku rasa iri seperti ini adalah rasa iri yang positif. Dan aku  menjadikan hal demikian sebagai spirit dan cambuk untuk diriku agar aku memiliki sikap istiqomah terhadap prinsip-prinsip seorang Muslim. Rasa iri yang akan membangkitkan semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ketika itu aku baru mengerti tentang esensi hidup sebenarnya. Saat itu aku mulai menata waktuku, kapan aku harus bangun, kapan aku sholat, kapan aku piket kebersihan lingkungan asrama, kapan aku harus belajar baik belajar di sekolah maupun belajar di asrama. Dan aku yakin santri-santri yang memiliki kesungguhan dalam belajar merasakan sama dengan apa yang aku rasakan.  Aku sadar merubah sebuah kebiasaan hidup, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan dan kesungguhan untuk meraihnya. Namun beruntungnya, aku hidup bersama orang banyak dalam satu asrama. Dimana dengan hal itu memiliki kekuatan untuk berubah ke arah yang lebih baik secara kolektif (bersama). Dengan izin Yang Maha Kuasa, beberapa bulan belakangan ini, aku masih bisa berkomunikasi, berbagi kabar, curhat,  minta nasehat dengan  Kak Faqih via SMS dan telepon yang kini dia sudah kembali ke kampung halamannya di Surakarta, Jawa Tengah. Hal ini aku lakukan untuk menjaga semangat dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang positif.

Tahun 2007, aku menginjakkan kakiku di sekolah Islam yang bernama Madrasah Aliyah Al-Mu’awanah, Bekasi. Sebuah sekolah yang menurutku cukup agamis dan lingkungannya cukup kondusif untuk belajar. Saat itu tanggung jawabku sebagi seorang pelajar semakin tumbuh. Sejak saat itu juga aku meluruskan niat, mempertebal tekad, dan menata diri untuk bisa menjadi siswa terbaik di kelas. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku, mengecewakan Bapak Ibu pengurus panti yang telah mengasuh aku, mengecewakan para donatur yang telah membantuku dengan tulus secara finansial untuk bisa melanjutkan sekolah menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Belajar pelajaran sekolah pada malam hari adalah salah satu caraku agar aku bisa meraih prestasi di kelas. Cara tersebut cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman terhadap pelajaan-pelajaran di sekolah. Aku yakin, usahaku itu tidaklah cukup tanpa dibarengi menjaga hubungan baik dengan Allah. Menjaga shalat 5 waktu dengan berjama’ah dan berusaha untuk tidak pacaran adalah caraku agar aku bisa menjaga hubungan baik dengan Yang Maha Pencipta.

Senang dan bangga. Itulah perasaanku Setelah aku mengetahui  bahwa aku meraih peringkat pertama kelas X (sepuluh) semester I. Bagiku, inilah pengalaman pertama aku menjadi bintang kelas. Dengan prestasi itu merupakan kebahagian yang sangat mendalam untuk diriku. Keyakinanku kepada Yang Maha Kuasa bertambah kuat, bahwa Allah Maha Melihat dan Allah memberikan jalan-jalan-Nya kepada orang-orang yang beriman dan mau bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dengan izin-Ny pula, aku berhasil meraih predikat bintang kelas sejak awal tahun sekolah hingga akhir tahun bersekolah di MA Al-Mu’awanah. Pada hari Perayaan Ujian (haflatul imtihan), sebuah acara  besar yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam Al-Mu’awanah yang rutin diadakan setiap tahun sekali, tepatnya ketika waktu kenaikan kelas, aku terpilih menjadi siswa terbaik dalam bidang akademis MA Al-Mu’awanah tahun ajaran 2009-2010. Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberiku hidup dan kehidupan. Papa dan mamaku, Bapak H.Utju (pimpinan panti asuhan Marhamah) dan Ibu Yayah (Ibu asrama putra) yang telah mengasuh aku dari sejak Sekolah Dasar hingga tamat Madrasah Aliyah dengan penuh ketulusan dan kesabaran serta guru-guruku di MA Al-Muawanah. Aku bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan  dengan orang-orang yang sangat baik dan peduli seperti mereka. Tahun 2010 aku menyelesaikan pendidikan MA Al-Mu’awanah Bekasi, Jawa Barat.

Leadership Intermediate Training, itulah nama salah satu kegiatan diselenggarakan oleh organisasi Pelajar Islam Indonesia. Aku berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut selam kurang lebih 6 hari di Karawang, Jawa Barat pada tahun 2008.  Ditahun 2009 juga, aku terpilih menjadi ketua OSIS MA. Al-Mu’awanah periode 2009-2010. Seperti pada umumnya, menjadi pengurus OSIS memiliki tanggung jawab lebih dibanding siswa-siswa biasa lainnya. Ia memiliki tanggung jawab sebagai seorang pelajar yang harus mengikuti pelajaran dengan baik dan pada saat yang sama ia memiliki tanggung jawab moral yang harus amanah dengan kewajibannya sebagai organisatoris.

Masa bakti, itulah nama program yayasan panti asuhan Marhamah yang diikuti oleh santri-santri yang menyelesaikan pendidikan SMA/MA sederajat. Aku melaksankan masa bakti pada Tahun 2010 sampai dengan tahun 2011. Masa bakti adalah masa pengembangan diri. Potensi tiap santri dikembangkan dengan baik. Aku menyadari bahwa potensi aku adalah pada bidang pendidikan dan pengajaran. Dengan modal sedikit ilmu yang aku punya, aku mencoba berbagi dengan adik-adik di yayasan Marhamah. Saat itu aku mengajarkan ilmu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Ilmu apapun yang kita miliki berbagilah, karena dengan berbagi itu takkan pernah merugi. Alhamdulillah aku menyelesailkan program masa bakti di yayasan Marhamah pada bulan April 2011.

Hari itu hari kamis, 7 April 2011. Itulah hari yang bersejarah dalam hidupku. Hari itu aku dapat dan santri-santri Marhamah yang sudah tamat SMA/MA sederajat mendapat informasi tentang pelatihan program Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dari seorang guru matematika yayasan Marhamah. Ibu Yanti namanya. Awalnya aku bimbang untuk mengikuti pelatihan tersebut, karena aku sudah mendaftarkan diri menjadi peserta Seleksi Beasiswa Bidik Misi Kementerian Pendidikan Nasional 2011. Kebimbangan itu hilang, setelah hatiku telah yakin untuk mengikuti pelatihan program Baznas dengan alasan beasiswa itu belum sifatnya belum pasti, sedangkan program baznas pasti. Dengan tidak dipungut biaya pelatihan, disediakan asrama, dan kebutuhan pokok difasilitasi oleh baznas. Itulah beberapa alasan aku lebih memilih program tersebut. Program yang menurutku sebuah kesempatan emas bagi orang-orang yang memiliki keinginan besar untuk mengubah nasib menjadi lebih baik tapi terbentur oleh biaya.

Kasih sayang Yang Maha Pemurah. Itulah yang aku rasakan ketika awal mengikuti pelatihan di Rumah Gemilang Indonesia. Sungguh, aku tidak menyangka bisa mengikuti  pelatihan seperti sekarang ini. Ini semua di luar rencanaku. Benar, manusia hanya bisa bisa merencanakan, tetapi Allah yang menentukan. Memanfatkan kesempatan pelatihan ini dengan maksimal dan fokus dalam belajar adalah ikhtiarku untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan membanggakan serta tidak membuat ummat (donatur) kecewa karena mereka telah memberikan konstribusi dengan ikhlas terhadap kesuksesan pelaksanaan pelatihan ini. Semoga urusan kita semua dimudahkan oleh Allah.

“Dan orang-orang yang sungguh-sungguh dalam mencari karunia Kami, maka akan Kami tunjuki jalan-jalan Kami. Dan Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (Q.s. Al-Ankabut:69)

Depok, 16 Juni 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: